Jumat, Oktober 23, 2009

Janji Pandji

Pandji Pragiwaksono—presenter sekaligus penyanyi rap—menjadi salah satu bintang tamu yang diundang oleh Kompasiana pada saat peresmian ulang tahun pertamanya pada tanggal 22 Oktober 2009 bertempat di Mario’s Place Cikini Jakarta disaat sesi talk show tentang bagaimana pengaruh internet—khususnya blog terhadap kehidupan dan karirnya.

pandji sudah mempunyai blog sejak lama. Posting pertama dia tepatnya pada bulan Agustus 2004, yang isinya tentang mengeluh karena sedang masuk angin. Awalnya, pembawa acara Kena Deh! ini memakai blog sebagai tempat curhat—sampai hal-hal yang menurutnya kurang penting. Namun, dalam perkembangannya Pandji merasa esensi blog itu bukan terletak dari tulisannya, tetapi dari tanggapan atau respon dari pembaca. Maka sejak itu, ia membuat posting blog yang kebanyakan bertema sangat menggebu-gebu—tentang nasionalisme—yang membuat banyak tanggapan banyak pembaca, baik itu baik maupun kurang baik.

Sedangkan dari karir sebagai rapper, Pandji memulai dengan membuat album lewat aliran indie dan mencetak 3000 keping CD. Namun ada beberapa masalah yang menghambat penjualan, antara lain 1500 keping CD yang belum terjual. Lambat laun, Pandji menemukan cara terefektif untuk menjual sisa CD-nya itu—yaitu dengan internet. Ia menjual beberapa CD-nya dengan Twitter. Hasilnya? Sukses! Bahkan ada pembeli yang berasal dari Medan yang rela merogoh kocek sampai Rp130.000,- hanya untuk membeli dua album CD Pandji. Dan tentu saja, karena membeli langsung dari sang penyanyi, si pembeli diberi ‘bonus’ tanda tangan dan quote yang ditulis Pandji sendiri yang terinsipirasi dari bungkusan kue Fortune Cookies.

Sesuai dengan janji Pandji di semua lagunya juga di status-status Twitter-nya, ia mencoba untuk membangunkan rakyat Indonesia, bahwa kita punya segalanya, dan tidak bisa ditindas oleh bangsa lain. Semangat seperti ini sepertinya sudah memudar di era globalisasi ini. Lihat saja anak muda jaman sekarang—suka keluyuran, bahkan narkoba dan seks bebas, bukan ciri khas orang timur—yang sopan dan santun.

Dan sebagai insan Indonesia yang masih mencoba untuk bangkit, kita sepatutnya mengikuti semangat dan janji Pandji—menjadi nasionalis—tanpa harus melakukan perbuatan-perbuatan radikal!

MAM

23 Oktober 2009

Minggu, Juli 19, 2009

Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part IV: Wrong Decision)

(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur telah melakukan perjalanan. Banyak hal menarik yang telah mereka alami selama di perjalanan. Namun, saat mereka di pemberhentian terakhir di di kota Tegal, mereka merasakan sesuatu yang aneh, bahkan firasat yang buruk yang mungkin akan mencelakakan mereka. Apakah yang akan mereka lakukan kedepannya agar dapat menghilangkan perasaan tersebut?)

Angin dingin tiba-tiba berhembus. Padahal, daerah tersebut dikenal panas dan jarang membawa angin sejuk, apalagi kalau di siang hari. “Kenapa nih, kok tiba-tiba jadi dingin...?” Rini bertanya kepada kedua sepupunya sambil ketakutan.

“Eh, kok perasaan gua jadi gak enak?” lanjut Syukur melanjutkan ketakutan Rini.

Ternyata mereka tidak tahu bahwa tadi pagi ramalan cuaca mengatakan bahwa akan ada angin besar seiring dengan ketidaktentuan cuaca belakangan ini. Lalu, Ian mencoba bertanya kepada penjaga kios makanan di tempat makan SPBU itu, “ada apa ya Mas, kok tiba-tiba cuaca bisa tidak enak begini?”

“Mas gak nonton berita hari ini ya? Katanya hari ini di Tegal dan sekitarnya dirundung angin besar. Gitu Mas...” cerita sang penjaga kios makanan.

Dikabarkanlah berita tak sedap ini kepada kedua sepupunya. “Oh, pantas hari ini badan gua menggigil terus...” jawab Rini dengan nada datar, tidak seperti yang Ian duga. Namun Ian berfirasat buruk tentang hal ini. Apakah ini ada hubungannya dengan perjalanan mereka ke Gunung Slamet?

Jam 16.00. “Yak! Para penumpang bus ini diharap segera kembali ke bus segera! Bus akan segera berangkat!” seru sang kondektur dari pintu bus. Ternyata jam istirahat telah selesai. Akhirnya mereka bertiga bersegera menuju bus. Suasana bus setelah jam makan ternyata cukup ramai, tidak seperti beberapa waktu sebelumnya.

“Mending kita tidur, Ian. Agar tidak terbebani dengan hal yang lu ceritakan.” bujuk Syukur kepada Ian.

“Boleh deh...” balas Ian dengan nada murung.

Jam 16.45. masih di kabupaten Tegal. Ternyata bus Ian, Rini, dan Syukur terkena macet yang cukup panjang. Setelah diketahui, alasannya adalah banyak truk tangki BBM yang menuju Purwokerto namun melalui Pemalang, jadi macet pun tak terhindarkan. Setelah terbangun dari tidurnya, Syukur langsung mengambil kamera dan memotret apa yang terjadi.

“Wuiss, kok tiba-tiba langsung motret gitu Kur?” tanya Rini yang terheran-heran.

“Ya gak apa-apa, lagi ingin motret aja.” jawab Syukur yang sepertinya masih ngigau. “Begitu...” balas Rini dengan nada polos.

Jam 17.15. akhirnya, mereka mencapai tujuan. Mereka sudah sampai kabupaten Pemalang. “Ian! Ian! Kita sudah sampai Pemalang!” sahut Rini dan Syukur membangunkan Ian.

“Be, benarkah!?” kata Ian terbata-bata.

“Benar...! tapi kita masih di kabupatennya.” jawab Rini. “Kalau mau, lu bisa tidur lagi...” lanjut Syukur melanjutkan pembicaraan Rini.

“Gak ah! Gua ingin lihat pemandangan yang indah di sini!” tolak Ian dengan nada yang tegas.

Lalu, mereka membuat pesta kecil-kecilan dengan mengucapkan selamat serta mengabarkannya kepada teman dan sanak saudara. Masih terlarut dalam euforia itu, mereka tidak sadar bahwa sudah Maghrib. Ian menghampiri sang kondektur, dan berkata

“Mas, nanti kalau ada masjid, bisa berhenti tidak? Untuk sholat...”. “Bisa Mas!” jawab sang kondektur dengan antusias.

Jam 18.00. bus Ian, Rini, dan Syukur telah mendapatkan masjid untuk sholat maghrib. Segera para penumpang yang diwajibkan untuk menunaikannya turun dari bus dan bergegas menuju masjid. Singkat cerita, mereka telah menunaikan ibadah sholat. Namun, sang supir memutuskan beristirahat sejenak untuk menghindari kecelakaan pada malam hari.

Banyak para penumpang yang memilih untuk kembali ke bus. Tetapi Ian, Rini, dan Syukur masih berada di masjid sambil memandangi langit.

“Indahnya langit Pemalang!” sahut Syukur.

“Serta udara malamnya sangat sejuk, gak seperti di Jakarta!” lanjut Ian.

Tiba-tiba sang muadzin masjid tersebut datang menghampiri mereka, “Mas, Mba, kok kalian di luar? Ayo masuk! Cuaca lagi tidak bagus ini...”.

Seketika mereka bertiga terhenyak. Udara yang mereka bilang sejuk itu kata orang Pemalang dikatakan sedang buruk.

“Terima kasih, tapi sebentar lagi kita berangkat!” jawab Ian dengan halus.

“Oh iya tidak apa-apa, semoga sampai tujuan ya!” salam sang muadzin sembari mendoa’kan agar mereka bertiga selamat.

Jam 18.20. semua penumpang telah siap. Sang supir diganti dengan si kondektur. Setelah mesinnya dinyalakan, bus sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Suasana di bus masih cukup ramai dengan sedikit obrolan. Sementara Rini ke hobi kesenangannya yaitu mencatat kejadian harian di buku harian, sementara Ian kembali ke kebiasaannya, yaitu bicara tentang sepakbola dengan Syukur.

“Gara-gara kita gak lihat TV, kita ketinggalan sepakbola nih!” kata Ian menyesal.

“Yah, payah lu! Tim kesayangan lu, MU, kalah di final Liga Champions!” seru Syukur dengan bangga, karena dia benci sekali dengan MU.

“Gak apa-apa deh, yang penting gua nonton saat MU mau ke Indonesia... gua sudah nabung nih!” sahut Ian semangat.

“Iya iya... nanti kalau ada lebih buat gua ya!” balas Syukur berharap bisa juga menonton pertandingan Indonesia All-Star vs MU.

Jam 19.00. Karena tidak ingin terkena kecelakaan, maka sang supir ini berjalan dangan sangat hati-hati. Kebanyakan para penumpang mengabarkan kepada sanak saudara bahwa mereka akan sampai tujuan. Sedangkan Ian, Rini, dan Syukur tengah asyik mengobrol.

Tengah asyik mengobrol, Ian mendengar riuh dari luar. Segera Syukur yang berada di samping jendela menengok ke arah jendela. Dilihatnya riuh para pedagang yang sedang berjualan dagangannya, serta lampu yang gemerlap. Mereka sudah sampai di pusat kota! Ian, Rini, dan Syukur mengambil senyum simpul dalam langkah pertamanya setelah melihat pusat kota Pemalang. Ternyata apa yang duga berbeda. Kota Pemalang yang mereka kira masih jauh tertinggal dari peradaban modern ternyata sudah cukup berkembang, bahkan sinyal HP Rini masih kuat disana. “Waah... kayaknya enak nih tinggal disini!” seru Ian sangat gembira.

Terus bercerita tentang keindahan Pemalang, ternyata bus terus melaju hingga melewati ingar-bingar pusat kota Pemalang, dan terus melaju ke daerah hutan lindung.

“Lho, kita kemana nih!?” bisik Rini ke Ian. “Iya Ian! Gua jadi khawatir!” lanjut Syukur berbisik ke Ian.

“Tenang saja, kita tetap pada jalur...” jawab Ian menenangkan kedua sepupunya.

“Lu itu udah bikin khawatir orang tua, keluarga, teman, dan yang lainnya kalau begini caranya!” bentak Rini marah.

“Tenang dong! Kalau pada marah-marah begini, gua malah susah...!” balas Ian tak mau kalah.

“Eh, udah dong...! Malu-maluin banget sih!” bisik Syukur pada kedua sepupunya. “Bisa aja kita dikeluarkan dari bus ini kalau kita berisik lagi!” lanjutnya dengan pelan.

Jam 20.00. Daripada tersesat, sesegera Ian bertanya kepada sang supir. “Mas, kalau tujuan Gunung Slamet kemana ya?”.

“Yah ampun Mas, kalau dari Randudongkal malah makin jauh! Mas salah ambil bis!” balas si supir.

“Eh gimana?” tanya kedua sepupunya. “Kejauhan.” Balas Ian dengan lesu.

Setelah itu dia mengambil kursinya dan duduk terlelap. Dengan kecewa, Rini dan Syukur akhirnya menutup perlahan kedua kelopak matanya.

Jam 20.30. Syukur terbangun dari tidurnya. Ia melihat pemandangan dari jendela tempat ia duduk.

“Subhanallah! Keren banget!” seru Syukur.

“Ada apa!?” seketika Ian dan Rini terbangun mendengar suara kencang Syukur.

“Oh enggak, Cuma pemandangan disini bagus.” Jawab Syukur.

“Dikira ada apa Kur...” jawab Ian yang langsung tidur lagi.

Jam 21.00. Rini yang terjaga sejak teriakan Syukur itu sedang sibuk dengan diary-nya, melihat catatan-catatan segala kejadian yang terjadi dari keberangkatannya. Sementara Syukur asyik melakukan hal tak jelas, di diary kesayangan Rini itu terselip secarik kertas. Ada apa dengan diary Rini? Apa isi kertas itu? Siapa yang menaruhnya di diary-nya? (bersambung)

Rabu, Mei 27, 2009

Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part III: Weird Feel)

(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur mencari bus yang bertujuan ke Pemalang atau sekitarnya, namun sampai larut malam mereka belum juga berangkat dari terminal karena berbagai alasan. Akhirnya, mereka mendapatkan bus yang bertujuan Pemalang. Adakah petualangan-petualangan menarik lainnya pada mereka? Kita baca lanjutannya berikut ini!)

Jam 5.15 pagi. “Yak, terima kasih. Terima kasih telah menggunakan jasa transportasi kami. Semoga berkenan di hati penumpang, silahkan menikmati perjalanan anda...!” kata sang kondektur beberapa meter setelah keluar dari gerbang terminal Kampung Rambutan. Hal seperti ini biasa terjadi, terutama pada bus AKAP. Sementara para penumpang lain tenang, Ian, Rini, dan Syukur justru asyik sendiri. “Ini nih, no. 5, lawan kata pro, 6 huruf...” kata Syukur sambil menelaah kata perkata yang ada pada buku TTS. “Ah, gua tau! Kontra!” sahut Ian bersemangat membuat para penumpang seketika melirik mereka bertiga. Sedangkan Rini yang bertugas sebagai pencatat segala jawaban yang mereka temukan.

Jam 7 pagi. Tidak terasa, sekarang posisi sudah sampai di tol Cikampek-Bandung, tepatnya masih di daerah kota Bekasi. Karena hari kerja, pagi hari mereka terjebak macet di jalan menuju tol. “Gak kerasa udah sampai sini!” sahut Ian yang sepertinya merasa puas, setelah berhari-hari lamanya menunggu hal ini. “Cuy, gak kerasa udah setengah buku TTS kita...” sahut Syukur sambil memperlihatkan buku TTS pembeliannya yang TTS-nya sudah dijawab mencapai setengah dari seluruh halaman buku tersebut kepada Ian dan Rini. “Seru juga kalau begini terus! Hahaha...” seru Ian sambil tertawa bersama Rini dan Syukur.

Jam 9 pagi. Menuju keluar gerbang tol Cikampek-Subang. Para penumpang lain mulai menampakkan kejenuhan mereka, namun Ian, Rini, dan Syukur belum selesai dengan aktivitas gilanya yang sepertinya sangat menggangu penumpang lain. “Udah ah, capek nih gua!”, kata Rini yang tangannya mulai letih menulis jawaban di buku TTS pembelian Syukur. “Ya udah. Sekarang mau ngapain lagi?” tanya Ian yang berusaha mengisi waktu di bus. “Istirahat dulu deh!” cetus Syukur dengan semangat yang mulai menurun. “Kalau begitu, nih!”, sahut Rini sambil mengeluarkan sebotol minuman penyegar. “Gua udah bawa 3 dari rumah!” katanya dengan bangga. Dibagikannya minuman itu. Serentak mereka meminumnya membuat mereka tidak lagi dahaga.

Jam 10 pagi. Masih di daerah kabupaten Subang. Ian memperhatikan aktivitas penduduk sekitar melalui jendela bus. Ada yang masih menjajakan makanan, atau para murid sedang melakukan kegiatan belajar-mengajar. Sementara Ian melihat sekitar, tiba-tiba bus mengerem mendadak. CIIT!!! “Ada apa ini!?” seru penumpang yang terbangun dari tidurnya di bus. “Ya, ada apa ini!?” tanya penumpang lain yang mulai menanyakan apa yang terjadi. Hati Ian mulai bertanya, “aduuh, aman gak ya perjalanan kita nanti?”. Setelah diizinkan, para penumpang turun. Bahkan mereka tidak percaya apa yang mereka lihat. Sebuah truk gandeng yang membawa produksi pabrik terguling menabrak sisi jalan sejauh hampir 1 kilometer dari arah berlawanan. Setelah dikonfirmasi, para saksipun tidak tahu sebab kecelakaan ini. Supir dan semua penumpangnya dipastikan tewas. “Waw, gila bener...!” seru Syukur yang turut keluar dari bus untuk melihat kejadian. Dan pasti, para pengguna jalan tertahan berjam-jam di TKP.

Jam 11.30 pagi menjelang siang. Polisi, pemadam kebakaran, dan para wartawan seketika mengumpul bak semut. Otomatis antrian panjang menjulang, mungkin kira-kira sampai hampir 15 kilometer. Segera Syukur mengambil kamera kesayangannya dan mendekati TKP lalu memotret apa yang bisa dipotretnya. Mungkin hal itu dilakukan Syukur untuk numpang masuk TV. “Aduh, mulai panas nih!” keluh Rini sambil mengipasi dirinya. Sementara penduduk sekitar dan pengguna jalan heboh dengan peristiwa aneh tersebut, Ian dan Syukur memilih untuk makan di warung tegal dekat dengan tempat busnya tertahan. “Ah, emang paling enak ngaso di warteg...” kata Ian dengan salah satu kaki di atas kursi, gaya klasik kalau makan di warteg. Syukurpun tak jauh beda dengan Ian. “Setuju! Semoga masih lama!” katanya sambil meminum es teh pembeliannya di warteg itu. Sementara itu Rini mencari mereka berdua. “Ian? Syukur? Dimana lu?” sahut Rini mencari mereka berdua. Untungnya tidak jauh dari bus, langsung Rini mendatangi mereka.

“Kemana aja lu!?” gerutu Rini kesal karena dirinya ditinggali oleh kedua sepupunya. “Sabar dong! Lagi enak-enak juga...” protes Syukur yang meminta tambah es tehnya, saking panasnya cuaca di sana. Sambil menyiapkan minum, mereka ditanya oleh sang empunya warteg, “mau pada kemana toh nak?”. “Ng, anu, kami mau pergi mendaki ke gunung slamet...” jawab Ian. “Lho? Kamu gak lihat di TV sekarang kalau gunung Slamet sekarang statusnya siaga?” tanya sang empunya warteg. Dengan ragu, Ian menjawab “ng, Insyaallah gak ada apa-apa...”.

Jam 12.00 siang. Setelah kasus ini diambil alih dan ditindaklanjuti oleh polisi, maka jalur dari arah Jakarta terpaksa dialihkan ke jalur yang ke arah Jakarta. “Yak penumpang yang dari arah Pemalang diharap segera berkumpul dan duduk di tempat masing-masing!” teriak sang kondektur dari bis yang ditumpangi Ian, Syukur, dan Rini. “Akhirnya berangkat juga...” lega Rini yang sepertinya hanya menginginkan dinginnya AC daripada perjalanannya. Di saat lega seperti itu, tiba-tiba Syukur menyelak, “eh, tapi kalau yang dikatakan Ibu yang jaga warteg itu benar gimana?”. “Bener juga tuh!”, jawab Rini. “Eh, kok lu berdua jadi gak yakin gitu sih!? Yang penting kita punya niat untuk ke sana! Yang begini udah gak bisa ditunda!” teriak Ian dengan nada emosi. “Kalau gitu kapan-kapan harus siap beli koran tiap hari nih...” cela Syukur yang berusaha menenangkan suasana.

Jam 14.00. tak terasa sudah mencapai Losari. Dalam perjalanan, setelah konfrontasi sengit antara 3 saudara tadi, suasana menghening. Mereka bertiga memilih diam sambil tidur daripada menguras energi lebih banyak lagi. Sang supir yang jenuh akan kemacetan truk di Losari, mulai menyetel lagu kesukaannya lewat HP, yang kebanyakan diisi oleh lagu Campursari. “Selamat datang di Jawa Tengah...” sahut Ian dengan pelan kepada kedua sepupunya.

“Akhirnya! Sampai juga di Jawa Tengah!” teriak Syukur dengan rasa puas. Sementara Rini mengakses Facebook-nya lewat HP. Ketika Rini sibuk dengan HP-nya dan Syukur sibuk dengan kameranya, Ian bertanya kepada penumpang disebelahnya. “Misi mas, mas ini tujuannya kemana ya?”. “Oh, saya mau pulang kampung.” jawab pemuda yang ditanya oleh Ian. “Dimana ya kampungnya mas?”. “Kampung saya di Randudongkal...” jawab pemuda itu dengan logat halus khas Purwokerto. “Randudongkal itu dimana ya mas?” tanya Ian yang belum bosan. “Setelah kota, lurus terus, sampai bertemu hutan. Ikuti saja hutan itu. Patokannya terminal Randudongkal deh mas.” jawab pemuda tersebut dengan sedetil-detilnya. “Oh, terima kasih ya...” balas Ian. “Sama-sama.” jawab sang pemuda.

Jam 15.30. Sudah di perbatasan Tegal. “Subhanallah, keren banget lautnya!” seru Syukur memandangi tepi jalan yang kebetulan laut. Sementara Ian masih gelisah dengan apa yang dikatakan oleh sang penjaga warteg waktu mereka di Cirebon. “Apa benar ya yang dikatakan ibu tadi?” gumamnya sambil gelisah. “Yah ampun, baterai gua habis!” gerutu Rini secara kasar. “Ngerepotin aja nih HP! Dipakai internet-an sebentar habis!”. “Udah udah, gak enak dilihat orang...” bisik Ian ke telinga Rini. “Dari tadi kita mulu yang berisik...” lanjutnya. Akhirnya, dengan sedikit perlahan emosi Rini mulai mereda.

Jam 16.30. para rombongan bus berhenti di SPBU di dekat kota Tegal sekaligus untuk istirahat. “Laper nih! Cari makan yuk?” sahut Syukur yang mulai memegang perutnya. “Duh, tapi gua ke kamar mandi. Kalau gitu, lu cari tempat duduknya yang deket sama kamar mandi. Biar gampang ketemunya. OK?” usul Rini. “Ya udah deh... yang penting makan...” jawab Ian yang juga mulai lapar.

Setelah mencari dan memilih makanan serta memilih tempat duduk, Ian dan Syukur menyantap makan siang mereka. Sementara itu, Rini masih mencari Ian dan Syukur. “Aneh nih dua orang itu! Katanya di kamar mandi, tapi kok gua cari gak ada ya...?”. Tiba-tiba, Rini melihat kedua sepupunya di dekat tempat memesan makanan. “Yah ampun, katanya mau di deket kamar mandi, kok disini!?” gerutu Rini. “Lho, kata lu di deket kamar mandi, kita udah di deket kamar mandi...” jawab Syukur dengan santai sambil menunjuk plang yang ada dibelakangnya. “YA AMPUN!!! Lu tuh bego apa bego sih!? Maksud gua tuh kamar mandi CEWEK!!!” teriaknya dengan rasa kesal yang makin menjadi. Mendengar kemarahan sepupu perempuannya, Ian dan Syukur justru tertawa keras.

“Hahaha...! dikerjain mau aja. Selamat ulang tahun ya!!!” seru kedua sepupunya.

Ternyata, hari itu adalah ulang tahun Rini. Sambil terharu, Rini membalas ucapan dari kedua sepupunya itu. “Makasih ya...! dikirain emang pada blo’on beneran, ternyata cuma ngerjain aja toh...” dengan mata berkaca-kaca. “Maaf ya kalau kita gak bisa ngasih kado bagus, soalnya duit lagi pas-pasan nih... hehehe...” kata Ian. “Sebagai gantinya, gimana kalau kita traktir makan disini?” sambung Syukur. “Apapun yang lu kasih, bagi gua itu yang terbaik...!” kata Rini layaknya seorang pujangga.

Akhirnya mereka bertiga bersenang-senang. Namun tiba-tiba perasaan aneh menimpa Ian, Rini, dan Syukur. Jantung terasa berdebar, syaraf menjadi kaku, nafas semakin tegang. Apakah yang terjadi?? (bersambung)

Sabtu, Mei 02, 2009

Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part II: From Jakarta)

(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur adalah tiga mahasiswa-mahasiswi jurusan geologi yang ingin menyelesaikan skripsinya masing-masing. Dalam rangka mewjudkan hal tersebut, maka mereka memutuskan untuk menyelesaikan skripsi mereka bersama-sama. Mereka memutuskan untuk menyelesaikan skripsinya di gunung Slamet, di daerah Jawa Tengah.)

Sambil mengeluh dan keringetan karena kepanasan, mereka mencari-cari bus jurusan Pemalang atau sekitarnya, namun mereka belum dapat menemukannya. “Aduuh, Ian! Kok gak ketemu...?” gerutu Syukur sambil mengelus-elus perut buncitnya karena kekenyangan. Dengan sesekali mengusap keringat di dahi, Ian menjawab, “kalau begini, kita tanya aja deh!”. Ditemuilahnya penjaga WC umum di pojokan terminal itu. “Misi bu,” tanya Rini dengan nada yang sopan. “Ada tidak bus tujuan Pemalang?”. “Biasanya, kalau bus itu ada tulisan tujuannya. Coba Eneng cari lagi...” jawab Ibu tersebut. Dengan raut muka yang tidak puas, mereka bertiga mencoba mencari lagi. Karena tidak menemukan apa yang mereka cari, mereka memutuskan untuk duduk-duduk sejenak di tempat tunggu. Sampai sorepun mereka hanya termenung di tempat tunggu.

“Heeh! Kayaknya itu tuh bus-nya!” seru Syukur memecah keheningan diantara mereka bertiga. “Mana? Jangan bohong lu!” tanya Rini yang selalu tidak percaya kepada Syukur. “Tuh, bener kan!?” kata Syukur sambil menunjuk bus berwarna oranye dengan bertuliskan 'Jakarta—Pemalang, via Tol.' di kaca bagian belakangnya. Dengan raut wajah yang capek, Ian menyela, “kalau gitu susul aja deh, lagian ini bukan tempat untuk keberangkatan...”. Tanpa berfikir panjang, mereka langsung menyusul bus yang mereka cari sejak siang. “Mas, tunggu!” teriak Ian. “Kami ingin naik!” ujarnya lagi. Berhentilah bus tersebut. Lalu sang kondektur turun, menghampiri mereka bertiga, dan berkata, “maaf mas, tempatnya sudah penuh. Kami bisa paksakan, kalau mau, kalian semua berdiri...”. “Gimana lu semua? Mau pada berdiri?”, tanya Ian. “Daripada di jalan bukannya nyenyak malah pegel, mending kita nunggu bus lain aja deh...”, kata Syukur dengan sedikit kecewa karena penantiannya sia-sia.

Jam 10 malam. Belum ada tanda-tanda kedatangan bus dari atau ke arah Pemalang. Tiba-tiba klakson berderu kencang memekakkan telinga Ian, Rini, dan Syukur yang khusus menunggu di depan gerbang terminal Kampung Rambutan. “Heeh! Ini dia bus dari Pemalang!” seru Rini kegirangan bukan main. Bagaimana tidak, setelah menunggu dari siang, akhirnya mereka mendapat apa yang mereka cari. “Dan kosong!” lanjut Syukur yang semangatnya seperti euforia kesebelasan sepakbolanya memenangi pertandingan. “Kalau begitu, kita datangi saja, biar gak penasaran.” kata Ian mengajak sepupu-sepupunya. Setelah dikejar, bus itu parkir di pojokan, dekat dengan WC umum tempat Rini bertanya. Sang supir bus keluar, lalu menuju tempat di seberang bus tersebut, yaitu sebuah warteg yang cukup besar dan ramai untuk ukuran terminal. Setelah masuk ke warteg itu, supir dan teman-temannya memesan makanan. Dengan sedikit menggangu, Ian bertanya, “Permisi pak, mau tanya, kalau keberangkatan ke Pemalang itu jam berapa ya?”. “Haduh nak, sekarang sudah larut malam, jadi bus ke Pemalang itu berangkat besok...”. “Oh, ya sudah. Terima kasih bapak!” sapa Ian, dengan sedikit memberi senyum simpul kepada supir tersebut. “Sama-sama...” kata supir tersebut. Setelah keluar dari warteg itu, Rini dan Syukur langsung menghampiri Ian. “Kenapa lu Ian? Berangkatnya kapan?” tanya Rini yang terkesan nafsu. “Besok...”, jawab Ian yang sangat lesu atas jawaban supir tadi. “Wekz!? Gila aja lo! Skripsi tinggal dua bulan lagi juga!” gerutu Rini, marah besar tidak karuan. “Yah ampun, lebai lo! Cuma kelewat semalam ini, lagipula besok pasti cepet kelar...” balas Syukur yang percaya diri tugas skripsinya cepat selesai.

Setelah selesai berdebat seperti itu, tidak terasa penglihatan mereka mulai memudar. Ya, mereka mengantuk dan mengalami capek yang hebat setelah mengitari terminal layaknya mengitari bukit Shofa dan Marwa selama 7 kali tiada henti. “Tidur dimana nih?” tanya Rini yang paling tidak suka kalau tidur di tempat yang menjijikkan. “Mau tidur dimana lagi, ya disinilah!" sahut Syukur dengan keras, sambil menunjuk kursi di halte utama. “Jam segini Mama gua gak bakal bukakan pintu!” lanjutnya. Ya, Rini mau tidak mau harus memakluminya. “Sekarang... cari kursi yang paling nyenyak untuk tidur!” seru Ian, yang tidak seperti biasanya semangat untuk tidur. Biasanya, Ian lebih suka begadang untuk menyelesaikan tugas atau sekedar menonton TV, juga jika ada pertandingan sepakbola.

Jam 3 dini hari. Empat jam setelah mereka mencari “tempat tidur” di terminal, terhitung dari jam 11 malam. Tidak seperti sepupu lelakinya yang langsung tertidur pulas, Rini terbangun di tusukan angin malam yang cukup jahat dan mencekam itu. Segeranya membuka tas, lalu mengambil arlojinya. “Huuh, masih jam tiga...” gumam dirinya. Melihat sekeliling dahulu, lalu ia mengobok-obok isi tasnya. Diambilnya sebuah buku kecil berwarna merah jambu digembok kecil berjudul 'DIARY'. Dengan pulpen bertinta hitam ini, Rini mencatat segala kejadian di buku tersebut. Hobi Rini adalah mencatat pengalaman harian di buku harian. Baginya, mencatat di buku harian itu sangat aspiratif, mengeluarkan semua uneg-unegnya, dan juga menjadi teman di kala suka maupun duka.

Jam 4.30 pagi. “Huamm, masih ngantuk nih...” kata Ian sambil menutup mulutnya yang sedang menguap. Sementara Syukur mendapati dirinya berada di lantai. “Hmm... pasti gua jatuh lagi, kebiasaan nih!” gerutu Syukur. “Ayo, busnya kan berangkat jam 5, sebelum itu, kita makan dulu aja!” ajak Rini. “Sembari menunggu penumpang yang lainnya!”, lanjutnya. “Daripada telat, kita beli nasi bungkus, lalu kita langsung ke bus sekarang...” cetus Syukur, yang sepertinya otaknya lagi jernih. “Mmm, ya udah.” kata Ian yang perutnya juga membutuhkan makanan. Setelah sibuk membeli makanan sekaligus membeli peralatan darurat, mereka menuju ke bus yang mereka tuju. Untungnya di bus itu sudah dihuni oleh supir dan kondektur.

Kesan pertama pada busnya? Ber-AC, tempat duduk dari busa, biarpun sedikit terkelupas oleh para tangan jahil, lalu ada kamar mandi, yang terkadang setelah dipakai terasa bau tidak menyenangkan. Namun biarpun begitu, mereka memberi senyuman yang cukup lebar pada bus ini. Segeranya mereka masuk, mencari tempat duduk yang paling enak, tentunya yang satu bangku tiga orang, serta menyantap hidangan yang mereka beli, yaitu nasi bungkus. Seketika para penumpang berdatangan layaknya orang mencari harta karun terpendam. Berdesak-desakan, membuat para penumpang yang lebih dulu tiba di bus ini merasa tidak nyaman. “Gila! Yang mau ke Pemalang banyak banget!?” protes Rini. “Lha, Pemalang itu kan katanya banyak yang kerja di Jakarta, khusunya jadi PRT...” jawab Syukur. “Ohh, gitu ya Kur” kata Rini sambil berfikir keras. “Eh, daripada bengong, enaknya ngapain ya?” tanya Ian, yang ingin mengusir rasa penatnya di dalam bus, karena sudah menunggu lama sekali sebelum akhirnya bisa naik bus tujuan. “Untung gua udah beli ini...!” seru Syukur sambil merogoh plastik hitamnya yang berisi barang yang dibeli di warung di terminal, yaitu buku TTS. “Tapi, gua lupa bawa pulpen...” keluh Syukur. “Tenang Kur, kali ini gua berbaik hati sama elu, nih!” kata Rini sembari diberikannya pulpen hitamnya. “Thanks. Oleh karena itu, kita jawab bareng-bareng ya?” tanya Syukur. “Ok deh!” seru Ian dan Rini. Setelah ini mesin bus dinyalakan. Dengan suara mesin diesel yang khas, perjalanan mereka bertigapun dimulai. (bersambung)

Rabu, April 29, 2009

Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part I)

Sembari mengecek peralatannya, Ian mencoba menghubungi kedua sepupunya, Rini dan Syukur. “Rin, jadi gak nih? Gua sudah mengemas peralatannya!” seru Ian dengan nada agak tidak sabaran. “Iya, iya. Gua juga udah mengecek peralatan. Tapi Syukur dari tadi gak bisa dihubungi!” jawab Rini. “Ya udah, berarti nanti kita datangi rumahnya saja... emang ngerepotin tuh anak!”, kata Ian dengan menggerutu kesal. Ian, Rini, dan Syukur adalah mahasiwa-mahasiwi bersaudara jurusan geologi yang sedang menyelesaikan tugas skripsi mereka yang notabene tinggal dua bulan lagi. Mewarisi hobi dan pekerjaan bapaknya yang seorang hiker, Ian sangat antusias jika mendengar hal yang berhubungan dengan gunung. Baginya, memanjat gunung sudah seperti santapan setiap bulan. Berbagai gunung di Jawa Barat sudah ia daki semasa kecil bersama bapaknya, seperti gunung Salak, Ciremai, atau gunung Tangkuban Perahu. Namun, mendaki di Jawa Tengah, khusunya di sisi utara merupakan hal baru baginya. Mungkin karena trauma oleh kematian bapaknya saat mendaki gunung di Jawa Tengah. Sementara bagi Rini dan Syukur, ini yang pertama kalinya mereka mendaki gunung yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka masing-masing. Bel rumah Syukur berbunyi. Di hari daerah rumahnya yang cukup panas tersebut, datanglah dua orang berjaket tebal menghampiri rumahnya. “Permisi!”, sapa Ian dengan sesekali memencet bel. Terdengar suara lembut menjawab. “Oh, nak Ian dan dek Rini! Ada apa ya?”, kata mbok Imah, pembantu yang sejak kecil bekerja di rumah Syukur. “Anu Mbok, saya ingin mencari Syukur. Ada tidak?”, tanya Ian yang mulai memerah mukanya karena kepanasan. “Mas Ian belum bangun...”, jawab mbok Imah yang kemayu jika berbicara. “Apa!? Dari tadi belum bangun!?”, kesal dan menggerutulah Ian. “Gila tuh orang! Kita sampai keringetan, dia belom bangun juga!”. “Ya udah, kita masuk ya mbok?”, kata Rini sambil membawa Ian yang masih terbawa emosi.

Dari pintu kamar Syukur terdengar suara ketukan dan perkataan yang terkesan nafsu. “Kur, bangun lo! Mau dapet kendaraan jam berapa!? Lu mau nginep di gunung? Belom lagi kalo nyasar Kur... BANGUN!!!”. Dalam hatinya sudah menebak bahwa itu adalah teriakan Ian. Bangunlah Syukur, ternyata sudah ada dua “malaikat pencabut nyawa” di hadapannya, namun kali ini memakai jaket berwarna warni dan membawa koran yang digulung-gulung menjadi layaknya sebuah pentungan, sesuai khayalan Syukur. “Ampun malaikat, hutang saya masih banyak, belum punya istri, dosa berat semua... jangan cabut sekarang ya...?”, kata Syukur meminta ampun dari sang “malaikat pencabut nyawa” ini. Bukannya terdengar tebasan darah atau teriakan, justru terdengar bisikan, ”NYADAR! Mau berangkat jam berapa??”. Ternyata bisikan itu berasal dari kedua sepupunya. “Sekarang deh,”, jawab Syukur. “Maaf kalau bikin telat...”. Dalam hati, Ian berkata, “ya iyalah, lu kan jagoan bangun siang!”. “Gara-gara dia mulu kita telat...”, keluh Rini, “lain kali berangkat jam 4 pagi aja kali ya biar gak telat??”, lanjutnya. Akhirnya, setelah mandi dan berkemas, Syukur langsung berbaur dengan rencana yang dibuat oleh Ian. “Jadi, pertama mau naik kereta atau bus?”, tanya Ian. “Bus!”, syahut Syukur. “Tapi gua maunya kereta!”, tolak Rini. “BUS!”, “KERETA!”, “BUS!”, “KERETA!”. Mereka berdebat layaknya anggota dewan yang tidak mau mengalah, berbalas pantun layaknya puitis. “BERHENTI!!!”, teriak Ian. “Kita ini sudah terlambat, kalau masih mikirin debat begini, gimana mau sampai!? Mikir dong!”, marah Ian, karena memang dia paling tidak suka terlambat. “Udah, gua aja yang nentuin!”, seru Ian. “Kita naik bus! Gua pilih bus karena selain menghemat biaya, menghemat waktu jika di sini ke terminal...”. “Apa?”, teriak Rini dengan nada kecewa. “Yes! Bisa ngehemat trus belanja-belanja deh!”, seru Syukur seperti orang gila. “Heh Syukur, berarti kalau bawa uang banyak traktir gua ya?”, pinta Rini. “Sama keluarga, sepupu, dan ponakan gua tentu!”. “Udah ah, kalau mau belanja, gua turunin di Brebes aja ya, beli telor asin, kalau nggak di Tegal...”, kata Ian. Setelah masalah transportasi selesai, mereka membicarakan rute yang akan dilalui. “Kita mau lewat mana? Mau langsung ke Banyumas atau lewat Pemalang?”, tanya Ian. “Hah? Pemalang, apaan tuh?”, tanya Rini dengan sedikit kaget, sepertinya kata ini terdengar asing untuknya. “Pemalang, alat untuk kita mengambang di dalam air...!”, kata Syukur yang sepertinya memberi tebakan. “Itu sih namanya pelampung, Kur! Jangan berlagak pilon deh!”, jawab Rini yang kesal dengan salah satu sepupunya yang paling bandel sendiri saat dia kecil, khususnya untuk menjahili Rini. “Pemalang itu salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Tapi kayaknya ini sih kota kecil, fasilitas pariwisatanya sedikit, namun lewat sini rutenya cukup murah. Gimana semuanya?”, tanya Ian. “Terserah kamu aja deh...”, sahut mereka berdua. “Yang penting kita selamat di sana, amiin...”. Setelah selesai dengan rencana mereka, mereka berdoa, agar mereka selamat sampai di tujuan. “Mari kita berdoa agar sampai tujuan dengan selamat, berdoa mulai!”. Setelah berdoa dengan khusyuk, mulailah pejalanan mereka. Karena rumah Syukur yang tidak jauh dengan terminal Kampung Rambutan, maka dengan bejalan kaki selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di terminal tersebut.

“Aduh, sumpek banget sih! Gak kuat nih!”, keluh Rini yang memang hidupnya cukup bersih. “Lu kuat tiap hari bau terus Kur?”, tanya Rini sambil menutupi hidungnya dengan sarung tangan. “Ya ampun, begini aja masa’ gak kuat? Emang cewek ngerepotin ya?”, ejek Syukur. Sementara kedua sepupunya bersitegang, Ian duduk di kursi tunggu dekat kios minuman terngiang kata-kata bapaknya sebelum meninggal sambil memegang mendiang bapaknya, “nak, yang penting kamu harus hidup bahagia, tentram, dan sukses. Dan jangan pernah patah semangat!”. Dengan memegang foto mendiang bapaknya, tanpa sadar air matanya jatuh sedikit-sedikit ke permukaan tanah dengan sedikit perasaan pilu di hati. Sementara Rini dan Syukur bersitegang, mereka baru ingat, “eh, si Ian mana?”, seru Rini yang orangnya gampang panikan. “Gak tau. Lu aja gak tau, apalagi gua...”, jawab Syukur dengan nada tinggi. “Lu sih! Coba lu gak ngajak ribut gua, gak lama nih cerita!”, bentak Rini kepada Syukur. “Enak aja lu nyalahin gua! Lagian begitu aja gampang ngambek!”, balas Syukur yang membela dirinya sendiri. “Makanya, dari dulu tuh gua males kalau jalan sama elo!”, gertak Rini yang amarahnya langsung naik drastis. “Ok, ok! Lebih baik sebelum mencari kita beli minuman dulu? Ok?”, kata Syukur yang mempunyai ide. “Ya dah, tapi lu beliin gua minum ya?”. Kata Rini. “Duit gua mau dihemat dulu. Biar bisa bayar kos-kosan... Ok?”. Lalu Syukur menjawab, “ya ya. Oce deh!”. Setelah mencari sekian lamanya, merekapun mendapat apa yang mereka inginkan. “Tapi kan sekarang sudah Dzuhur, kita sekalian makan ya?”, pinta Rini yang berharap ditraktir makanan dari Syukur. Dengan mengeluh, Syukur mengiyakannya. “Huuh, ya udah!”. Ternyata, saat mau ke resto yang katanya paling enak di terminal ini, bertemulah sosok berjaket dengan tas besar di sisinya. “Eh, lihat deh! Itu siapa? Kayak Ian?”, tanya Rini ke Syukur. Setelah diteliti secara seksama, ternyata... “Ian!”, sahut mereka berdua. “Kemana aja lo? Padahal kita baru mau makan di sini!”, tanya Syukur. “Mmm... gak apa-apa, tadi habis beli minum. Yok kita mulai perjalanan kita!”, sahut Ian yang penuh semangat, berputar 180o dengan keadaan sebelumnya. “Ya ampun, sekarang matahari udah ada di atas kepala persis, kalau gak makan dulu bisa pingsan kita-kita!”, gerutu Rini. “Huuh, ya udah kita makan dulu!”, kata Ian. “Yes, kita katanya mau ditraktir sama Syukur!”, seru Rini. Dengan nada menolak, Syukur membantah, “gila aja lu! Duit gua habis gara-gara beginian lagi... kalo gak bawa apa-apa dari luar kota nanti pada dendaman lagi...”. “Ya ampun, daripada ribut lagi, gua aja deh yang traktir!”, kata Ian. Sesudah kenyang di resto yang katanya paling enak di terminal Kampung Rambutan, semua bersiap menuju ke gunung Slamet. “Ok! Let’s go!”, seru Ian yang keliatannya semangat biarpun harus merogoh kocek lebih dalam, sementara Syukur justru lemas tak berdaya setelah kekenyangan dan mulas sedikit-sedikit. “Sudahlah, kalau rasa kayak gitu mah bisa hilang sendiri...”, bujuk Rini. “Ya udah deh... huuh...”, kata Syukur yang rasa mulasnya semakin mengerucut. (bersambung)

Kamis, April 09, 2009

Pemilu 2009: Pesta Demokrasi

Menurut anda, pada tahun 2009 ini event manakah yang paling besar? Java Jazz? Kedatangan MU ke Indonesia? Itu terserah anda. Namun menurut saya salah satu event paling besar di Indonesia sekarang adalah pemilihan umum (Pemilu) yang dilaksanakan pada tanggal 9 April ini. Biarpun antusiasmenya kurang, tetapi ini adalah satu-satunya (selain Pilkada) Pesta Demokrasi di Negeri kita ini. Namun, bukan berarti Pesta Demokrasi “kebanggaan” kita ini tanpa celah. Isu tentang DPT yang sudah beredar sekitar seminggu yang lalu, logistik yang amburadul sehingga beberapa TPS menggunakan bilik suara kardus atau di Porong menggunakan meja belajar anak TK, juga kertas suara yang cacat, dan satu lagi, yang paling parah, yaitu money politic oleh para caleg. Semua kontroversi tersebut membuat KPU dijadikan kambing hitam. Memang, dalam kasus ini semua menyalahkan KPU. Juga pada hari H, yang seharusnya mendapat hak pilih ternyata batal karena tidak dapat surat pemanggilan untuk pencentangan. Tapi, yang penting satu; jangan golput. Karena golput itu tidak bisa menentukan nasib bangsa kita 5 tahun kedepan. Ada baiknya jika 5 tahun kedepan Pemilu dilakukan dengan cara elektronik agar masyarakat kita mengenal IT. Ayo, sukseskan lagi Pemilu 5 tahun mendatang! Sekian, MAM 9 April 2009

Self-Photo

Jika diperhatikan, anak-anak muda jaman sekarang menggandrungi satu tren yang berhubungan dengan benda yang tidak bisa dipisahkan dari hidup mereka. Ya, handphone (HP) sekarang bukan hanya sekedar alat komunikasi, tetapi HP sudah menguasai hampir seluruh bidang elektronik, seperti kamera, komputer (internetnya), radio, tape recorder, game, music player, bahkan Televisipun dapat anda temukan dalam satu benda kecil nun canggih ini. Yang sekarang saya ingin perbincangkan adalah tentang kameranya. Jika anda lihat dalam situs pertemanan seperti Facebook, Friendster, atau Myspace, anda bisa melihat primary photo profil seseorang, terkadang dengan latar belakang tempat umum, atau terkadang hanya di rumah. Jika di rumah, yang biasanya memakai HP, terlihat jarak pandang yang terkesan dienak-enakan karena mengambailnya memakai tangan yang tidak panjang, biasanya sudutnya keatas sekitar 60o dari kepala. Juga terkadang pengambilan gambar pada saat yang tidak tepat serta fitur HP yang tidak memadai, jadi ada gambar bagus, jika diakali, namun ada yang tidak sebaik yang kita inginkan. Inilah Self-Photo. Fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita, digandrungi baik anak muda maupun yang sudah berumur. Yang menjadi pemotret adalah yang dipotret. Tempat pengambilannya biasanya di rumah atau tempat-tempat pribadi lainnya. Mau HP yang resolusinya VGA sampai 5MP, untuk narciss- narcissan atau untuk kepentingan pribadi lainnya. Namun terkadang foto-foto ini bisa dipersalahgunakan, jadi berhati-hatilah dalam penggunaan self-photo ini. Sekian, semoga bemanfaat MAM 4 April 2009

Minggu, Maret 29, 2009

A Lucky Role

Acara dimulai pada jam 15.00 WIB. Saya baru datang pada saat acara Grand Final Rapor Idola Cilik 2 (IC2) di Integrity Convention Center (ICC) Kemayoran Jakarta Pusat akan berlangsung. Keriuhan penonton, baik pendukung Debo maupun pendukung Patton mendominasi suara di ICC. Penampilan para finalis, Debo asal Sukabumi dan Patton asal Jakarta ditambah bintang tamu Peterpan, Seventeen, finalis IC1 dan IC2, Delon Idol, juga Ikhsan Idol memukau para penonton juga para undangan. Hasil SMS sementara pada pertama menunjukkan keunggulan Debo yang cukup jauh, yaitu sekitar 4 persen, namun ketika dilakukan polling SMS lagi, keunggulan Debo menipis menjadi kurang dari 1 persen. Hasil perolehan SMS yang ketiga justru Patton unggul, dengan keunggulan kurang dari 1 persen juga. Di polling SMS keempat Patton makin menjauh menjadi sekitar 6 persen. Mereka menyanyikan lagu baru yang nantinya dinyanyikan jika salah satu diantara mereka menjadi juara. Debo membawakan “Bintang yang Bersinar” ciptaan Rian D’Masiv, sementara Patton menyanyikan lagu ciptaan Tompi, “Mengejar Mimpi”. Lalu dilakukan polling SMS sementara. Debo mendekati Patton hingga bedanya kurang dari 1 persen. Tibalah saat yang menentukan. Saat dimana penentuan sang juara. Semua penonton yang riuh tiba-tiba menjadi sunyi dan deg-degan. Saat sang pembawa acara Okky Lukman mengatakan, “yang menjadi juara Idola Cilik 2 adalah...!”, membutuhkan jeda yang cukup lama hingga Okky berkata, “Debo, selamat. Kamu yang jadi pemenangnya...!”, riuhpun menggema di ICC, khususnya bagi para pendukung Debo karena memang lebih banyak di ICC daripada pendukung Patton. Debo pun menyanyikan lagu “Bintang yang Bersinar” ciptaan Rian D’Masiv. Namun, Patton dapat menerimanya dengan lapang dada. Dan hasil akhir SMS menunjukkan keunggulan Debo yang menjauh dari polling sebelumnya, menjadi sekitar 4 persen. Ya, seperti itulah kehidupan ini. Banyak orang bilang bahwa kehidupan ini seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Namun terkadang ada banyak cara agar kita sampai di atas. Kadang dengan kerja keras, skandal, beruntung, atau yang lain-lainnya. Mungkin para finalis yang mengikuti acara-acara layaknya IC ini melalui kerja keras dan juga keberuntungan. Kerja keras karena mereka menunjukkan kemampuan terbaik mereka untuk pemirsa dan juri, sedangkan keberuntungan karena mereka tidak tahu hasil akhir, apakah salah satu dari mereka tersingkir atau melaju ke babak selanjutnya. Jadi, kerja keras dan keberuntungan juga berpengaruh agar kita bisa menjadi sukses walaupun butuh pengorbanan yang cukup besar. Sekian dari saya, MAM 29 Maret 2009

Sabtu, Maret 21, 2009

HUJAN

Pengantar: Ini adalah cerita yang diadopsi dari kisah nyata dengan pengubahan seperlunya. Selamat membaca! “ Eh, lu pulang kapan Tres?”, tanya saya pada Tresna pada Kamis sekitar seminggu yang lalu. Maklum, pada saat itu sedang hujan yang cukup deras, salah satu hujan terderas tanpa petir selama satu bulan ini. “Pulangnya nanti aja ah, gua males hujan-hujanan...” jawab Tresna dengan rasa malas. “Lu Bal?”, tanya saya lagi, namun pada Iqbal. “Tau ah, mungkin kalo udah reda...”, jawab Iqbal juga dengan sedikit lesu. Sekitar 10 menit dari jam 2 siang tepat, saya nekat untuk menerjang hujan untuk keluar, minimal keluar dari gedung kelas 8. “udah, keluar sekarang aja Bal!” ajak saya. “mmm, ya udah... Tres, mau ikut gak sama gua sama Ammar pulang sekarang?” ajak Iqbal pada Tresna. “ya deh...!” akhirnya, teman-teman sayapun ikut juga. Yang namanya “kangen” sama hujan-hujanan, saya tidak bisa melewatkan kesempatan yang satu ini. Hampir semua teman saya yang laki-laki langsung menerjang hujan ke tempat yang cukup teduh, yaitu di gedung baru yang sepertinya untuk kelas 7 pagi. Saat itu, sudah banyak teman-teman dari kelas saya yang pulang, khususnya laki-laki. “Gua duluan ya Mar...!” ujar Jonathan sembari dijemput oleh ibunya. “ lu main dulu biasanya, Sen?” tanya saya pada Hansen. “gak ah. Hujan deres nih!” sangkal Hansen. “kalo lu Ki?”, tanya saya pada Kiki. “ya pulang lah... orang gua gak boleh main...” kata Kiki. Tersisalah saya, Iqbal, Ashel, Sardo, dan Fachrur. Namun, tidak hanya nurid dari kelas 7-2 saja yang terjebak oleh hujan kemarin. Seluruh murid dari kelas pagi terjebak, karena mereka Rohis pada hari Kamis. Sementara kelas saya ada lab bhs. Inggris pada hari Kamis. Sekitar 10 menit setelah saya mengobrol-ngobrol di gerbang depan sekolah, tiba-tiba “debit” ari meninggi, dari sekitar 10 cemtimeter menjadi 20 centimeter, merendam sampai mata kaki saya. Kepanikan makin menjadi. Hujan semakin deras. “Eh, lu copot sepatu??” tanya saya dengan sedikit kaget. “Iseng amat!?”, lanjut saya. “Biarin laah... biar besok lebih cepet kering...”, jawab Ashel, yang serempak dengan Sardo dan Fachrur. “beneran nih Bal lu mau copot sepatu?” tanya saya pada Iqbal. “Yok!”, jawab Iqbal. “Eh, itu Mas Gino! Berarti gua duluan ya Mar!”, seru Iqbal. “Oce deh!”.jawab saya. “hati-hati dijalan yee!”, seru saya. Ya, akhirnya saya pulang bersama Ashel dan Sardo. “Jalan sampai Komsen aja yuk!” ajak saya. “ya udah!” jawab Ashel dan Sardo. Di jalan, sambil mengobrol, tak terasa sudah sampai dekat rumah Sardo. “Duluan ya Do...!” salam saya. “Ya!” kata Sardo. Setelah itu, Ashel naik 02. “Gua duluan ya Mar!” seru Ashel. “Ya, Shel!” teriak saya. Hujan sudah mulai mereda. Sayapun naik angkot agar lebih cepat sampai ke rumah. Tapi sesampainya di angkot, saya sepertinya selalu diliatin, karena saya nyeker. Tapi itu kan hanya untuk tidak memperparah kondisi sepatu saya. Ya seperti itulah pengalaman saya yang semestinya tidak perlu dipublikasikan. Tak apalah, yang penting happy! Sekian, MAM, 20 Maret 2009

Jumat, Februari 06, 2009

Facebook Addict

Tidak seperti istirahat yang lain, Rabu (4/2), Fachrur, teman saya, sangat sumringah, “Akhirnya gua (gw, saya) bisa juga bikin Facebook...” katanya pada Tresna. “Gw mah udah dari kemarin...” balas Tresna. Kalau yang biasanya bicara “lu comment apa ke FS (Friendster) gw?”, berganti menjadi “lu nulis apa ke wall gw?”, atau “kalau bikin e-mail susah gak sih?”, karena kita harus konfirmasi setelah membuat account Facebook, dan kebanyakan dari teman saya ini membuat Friendster tidak mempunyai e-mail. Tapi memang, Facebook ini membuat kita tergila-gila (seperti potongan lagu Tiket, ya...). Awalnya sang pencipta, Mark Zuckerberg hanya menciptakan situs jejaring sosial ini hanya untuk ditujukan untuk mahasiswa dan alumni Harvard University . Namun akhirnya ia kembangkan di universitas lain di Boston, the Ivy League, dan Stanford University. Lalu dia kembangkan lebih jauh untuk mencakup seluruh murid universitas, lalu pada murid sekolah, dan akhirnya, kepada semua orang yang 13+ (umurnya lebih dari 13 tahun), lalu akhirnya ke seluruh dunia. Tentu saja dia memulai semua yang saya sebutkan di AS. Namun, bukan berarti Facebook tanpa kontroversi selama beberapa tahun. Facebook pernah diblokir aksesnya di beberapa negara, seperti Suriah dan Iran, yang notabene adalah pembenci AS dan sekutunya, serta sangat mendukung kemerdekaan Palestina. Atau aksesnya di-banned­ di tempat kerja untuk menambah produktivitas Yang membuat saya kagum akan Facebook adalah bukan sebagai tempat sombong-sombongan atau pamer-pameran, tetapi bagaimana keniatan dan tekad seorang Mark Zuckerberg yang ingin membuat “bukan jejaring sosial biasa”. Dan dia sangat serius dan detail sekali, juga memudahkan kita, sampai-sampai dia menyumbangkan untuk situs ini sampai 200.000 Dollar AS pada 2005. Seperti jika ingin menambah teman, dia membuat “tab” kecil tanpa mengubah link, sehingga kita tidak harus membuka tab atau window baru, sehingga tidak merepotkan kita sebagai pengguna. Teman-temannya pun juga menaggapi dengan antusias. Jadi begitulah, intinya, kita bisa melakukan apapun, jadi, jangan bilang tidak bisa! Sekian, MAM 4 Feb 2009

Sabtu, Januari 17, 2009

We Will not Go Down

“...we will not go down In the night, without a fight You can burn up the mosque And the homes, and the school But the spirit will never die We will not go down...” Itu adalah sebait reff dari lagu Michael Heart, We Will not Go Down­. Lagu yang menceritakan bahwa walaupun semuanya telah hancur, namun semangat tak boleh mati. Mungkin itu yang menggambarkan keadaan di belahan dunia yang lain di sebelah sana. Ya, Gaza, salah satu bagian persengketaan tanah dan politik, antara “negara” Palestina dan Israel. Pada tanggal 27 Desember 2008, roket dari Gaza meluncur ke arah Israel. Sebenarnya bukan itu, namun ini membangkitkan luka lama Israel, yang harusnya terlupakan, tentang Hamas. Hamas adalah suatu organisasi yang melebar menjadi suatu partai, berasal dari Mesir, yang bertujuan untuk membentuk negara Islam di Timur Tengah, tanpa halangan dari Yahudi, khususnya Zionis. Hamas pun menyebrang ke Palestina yang “menguasai” Tepi Barat dan Gaza, yang tidak diakui Israel, yang notabene pada saat itu dikuasai Fatah. Lalu Hamas mencoba peruntungannya di Palestina. Pada saat Hamas memenangi pemilu pertama kali atas Fatah, partai yang waktu itu sangat dominan, banyak orang tidak menyangka, termasuk Fatah sendiri. Akhirnya, terjadi perang saudara berkepanjangan antara Hamas dan Fatah. Akhirnya Fatah mundur, namun sampai sekarang pun masih ada sisa-sisa dari konflik tersebut. Lalu Hamas melakukan tujuan “mulia” lainnya, yaitu manghancurkan Israel walaupun bertahap dan kemungkinan besar tak bisa menang. Dengan senjata selundupan yang tidak mungkin disalurkan dalam skala besar karena terowongannya itu sendiri rapuh dan gampang longsor yang diselendupkan melalui satu-satunya perbatasan yang tidak dijaga oleh Israel, yaitu Rafah, Mesir. 2 tahun pasca Hizbullah menyatakan kemenangannya, Hamas sepertinya merasa bahwa nasib mereka pasti Hizbullah, yaitu Israel menyerah dan harapan terbesarnya, yaitu membuka blokade di perbatasan yang dijaga Israel. Serangan pun dimulai pada tanggal 27 Desember 2008, Hamas meluncurkan beberapa roket ke arah Israel. 7 hari pertama pasca serangan, tiba-tiba menjadi membabi buta. Pada 7 hari pertama itu, serangan dimulai dari udara, dengan intesitas dahsyat, yaitu 20 menit sekali serangan! Di minggu kedua, Israel memulai dengan altileri darat, menjaga perbatasan laut, namun PBB dan otoritas dunia masih dapat menyalurkan bantuan melalui Rafah, Mesir. Puncak yang awalnya serangan menjadi agresi, yang tidak memandang bulu, baik wanita, anak-anak, dan manula terjadi pada hari ke-15 atau pada awal minggu ketiga. Mereka memulai bergerak, menjaga, lalu memantau setiap pergerakan bahkan anak kecilpun diperhatikan. Mereka mengepung setiap sudut kota Gaza, lalu mereka melanggar aturan perang dengan mengeluarkan bom fosfor putih, zat beracun yang dapat membuat sesak nafas, dan rasa terbakar hingga menembus kulit dan terasa di tulang. Mereka juga menyerang perbatasan, dan menutup terowongan yang ada di Rafah dengan bom-bom yang membabi-buta. Israel juga menyerang kantor PBB yang berisi logistik dan jurnalis yang niatnya hanya meliput. Puncak dari puncaknya ketika Israel telah membunuh salah satu petinggi Hamas. Namun perang bukanlah penyelesaian yang abadi. Perang adalah salah satu unjuk gigi bahwa satu pihak yang bertahan (eksis) berarti menang. Kalau didefinisikan seperti itu, pemenangnya pasti Hamas, dengan sesekali menyerang, dan disokong oleh sekutu, mereka kuat menghadapi Israel yang korban jiwanya hanya 13, sedangkan Palestina sampai 17/1 sudah mencapai 1140 orang, 400-an adalah anak-anak. Tapi ya akhirnya kita serahkan ke masyarakat, tentang definisi perang, dan siapa pemenangnya. Kita hanya bisa berdo’a untuk disadarkan keduanya. Semoga konflik ini berakhir dan kejadian ini segera dilupakan oleh kedua belah pihak. Yang kita butuhkan hanyalah optimis dan semangat menghadapi hidup ini. Inilah perspektif dari saya, jika anda memiliki perspektif lain, silahkan berikan komentar pada tulisan ini. Sekian MAM 17 Jan 2009

Kamis, Januari 01, 2009

Resolusi 2009: Revolusi!

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2009. Apakah anda memiliki keinginan, harapan, atau sebuah resolusi di tahun yang baru ini? Kalau saya, saya ingin perubahan yang menyeluruh ke arah yang lebih baik. Karena, satu kesalahan kecil dapat mengakibatkan kesalahan fatal. Pertama, menurut saya yang diprioritaskan pertama adalah pendidikan. Karena menurut saya, salah satu yang bisa membuat bangsa ini maju adalah pendidikan. Lalu, yang kedua, sistem birokrasi di negeri kita ini. Misal, jika kita membuat KTP, kita harus berbelit-belit dan membutuhkan “pelicin”, itu tanda kalau birokrasi kita kacau, lalu yang menjadi “tren” beberapa bulan terakhir, sektor ekonomi. Krisis ekonomi yang menimpa hampir seluruh negara di dunia, membuat ekspor kita menurun, namun jangan hanya mengandalkan dari ekspor, namun, produksi dan konsumsi dalam negeri juga harus ditingkatkan. Lalu olahraga kita. Karena pengelolaan regenerasi yang buruk, tidak ada pengganti yang tua, akibatnya kita tidak membanggakan di olahraga. Dalam 3 bulan ke depan, akan terjadi perubahan pemerintahan. Namun, dalam masa kampanye yang cukup lama, cukup banyak yang golput alias tidak mau memilih. Ini karena dalam masa pemerintahan, tidak banyak perubahan, malah cenderung ke arah “kegelapan”. Tapi, jika tidak memilih, mereka juga akan tidak puas, nanti demo, kita tidak tahu seperti apa mau mereka. Namun, golput adalah sebuah hak. Kita tidak bisa memaksakan kehendak orang lain. Kalau mau perubahan, kita yang menetukan, bukan orang lain. Sekian dari saya, semoga bermanfa’at. MAM 1 Januari 2009

Twitter-ku