Sabtu, Maret 21, 2009

HUJAN

Pengantar: Ini adalah cerita yang diadopsi dari kisah nyata dengan pengubahan seperlunya. Selamat membaca! “ Eh, lu pulang kapan Tres?”, tanya saya pada Tresna pada Kamis sekitar seminggu yang lalu. Maklum, pada saat itu sedang hujan yang cukup deras, salah satu hujan terderas tanpa petir selama satu bulan ini. “Pulangnya nanti aja ah, gua males hujan-hujanan...” jawab Tresna dengan rasa malas. “Lu Bal?”, tanya saya lagi, namun pada Iqbal. “Tau ah, mungkin kalo udah reda...”, jawab Iqbal juga dengan sedikit lesu. Sekitar 10 menit dari jam 2 siang tepat, saya nekat untuk menerjang hujan untuk keluar, minimal keluar dari gedung kelas 8. “udah, keluar sekarang aja Bal!” ajak saya. “mmm, ya udah... Tres, mau ikut gak sama gua sama Ammar pulang sekarang?” ajak Iqbal pada Tresna. “ya deh...!” akhirnya, teman-teman sayapun ikut juga. Yang namanya “kangen” sama hujan-hujanan, saya tidak bisa melewatkan kesempatan yang satu ini. Hampir semua teman saya yang laki-laki langsung menerjang hujan ke tempat yang cukup teduh, yaitu di gedung baru yang sepertinya untuk kelas 7 pagi. Saat itu, sudah banyak teman-teman dari kelas saya yang pulang, khususnya laki-laki. “Gua duluan ya Mar...!” ujar Jonathan sembari dijemput oleh ibunya. “ lu main dulu biasanya, Sen?” tanya saya pada Hansen. “gak ah. Hujan deres nih!” sangkal Hansen. “kalo lu Ki?”, tanya saya pada Kiki. “ya pulang lah... orang gua gak boleh main...” kata Kiki. Tersisalah saya, Iqbal, Ashel, Sardo, dan Fachrur. Namun, tidak hanya nurid dari kelas 7-2 saja yang terjebak oleh hujan kemarin. Seluruh murid dari kelas pagi terjebak, karena mereka Rohis pada hari Kamis. Sementara kelas saya ada lab bhs. Inggris pada hari Kamis. Sekitar 10 menit setelah saya mengobrol-ngobrol di gerbang depan sekolah, tiba-tiba “debit” ari meninggi, dari sekitar 10 cemtimeter menjadi 20 centimeter, merendam sampai mata kaki saya. Kepanikan makin menjadi. Hujan semakin deras. “Eh, lu copot sepatu??” tanya saya dengan sedikit kaget. “Iseng amat!?”, lanjut saya. “Biarin laah... biar besok lebih cepet kering...”, jawab Ashel, yang serempak dengan Sardo dan Fachrur. “beneran nih Bal lu mau copot sepatu?” tanya saya pada Iqbal. “Yok!”, jawab Iqbal. “Eh, itu Mas Gino! Berarti gua duluan ya Mar!”, seru Iqbal. “Oce deh!”.jawab saya. “hati-hati dijalan yee!”, seru saya. Ya, akhirnya saya pulang bersama Ashel dan Sardo. “Jalan sampai Komsen aja yuk!” ajak saya. “ya udah!” jawab Ashel dan Sardo. Di jalan, sambil mengobrol, tak terasa sudah sampai dekat rumah Sardo. “Duluan ya Do...!” salam saya. “Ya!” kata Sardo. Setelah itu, Ashel naik 02. “Gua duluan ya Mar!” seru Ashel. “Ya, Shel!” teriak saya. Hujan sudah mulai mereda. Sayapun naik angkot agar lebih cepat sampai ke rumah. Tapi sesampainya di angkot, saya sepertinya selalu diliatin, karena saya nyeker. Tapi itu kan hanya untuk tidak memperparah kondisi sepatu saya. Ya seperti itulah pengalaman saya yang semestinya tidak perlu dipublikasikan. Tak apalah, yang penting happy! Sekian, MAM, 20 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Twitter-ku