“...we will not go down
In the night, without a fight
You can burn up the mosque
And the homes, and the school
But the spirit will never die
We will not go down...”
Itu adalah sebait reff dari lagu Michael Heart, We Will not Go Down. Lagu yang menceritakan bahwa walaupun semuanya telah hancur, namun semangat tak boleh mati. Mungkin itu yang menggambarkan keadaan di belahan dunia yang lain di sebelah sana. Ya, Gaza, salah satu bagian persengketaan tanah dan politik, antara “negara” Palestina dan Israel. Pada tanggal 27 Desember 2008, roket dari Gaza meluncur ke arah Israel. Sebenarnya bukan itu, namun ini membangkitkan luka lama Israel, yang harusnya terlupakan, tentang Hamas.
Hamas adalah suatu organisasi yang melebar menjadi suatu partai, berasal dari Mesir, yang bertujuan untuk membentuk negara Islam di Timur Tengah, tanpa halangan dari Yahudi, khususnya Zionis. Hamas pun menyebrang ke Palestina yang “menguasai” Tepi Barat dan Gaza, yang tidak diakui Israel, yang notabene pada saat itu dikuasai Fatah. Lalu Hamas mencoba peruntungannya di Palestina. Pada saat Hamas memenangi pemilu pertama kali atas Fatah, partai yang waktu itu sangat dominan, banyak orang tidak menyangka, termasuk Fatah sendiri. Akhirnya, terjadi perang saudara berkepanjangan antara Hamas dan Fatah. Akhirnya Fatah mundur, namun sampai sekarang pun masih ada sisa-sisa dari konflik tersebut.
Lalu Hamas melakukan tujuan “mulia” lainnya, yaitu manghancurkan Israel walaupun bertahap dan kemungkinan besar tak bisa menang. Dengan senjata selundupan yang tidak mungkin disalurkan dalam skala besar karena terowongannya itu sendiri rapuh dan gampang longsor yang diselendupkan melalui satu-satunya perbatasan yang tidak dijaga oleh Israel, yaitu Rafah, Mesir.
2 tahun pasca Hizbullah menyatakan kemenangannya, Hamas sepertinya merasa bahwa nasib mereka pasti Hizbullah, yaitu Israel menyerah dan harapan terbesarnya, yaitu membuka blokade di perbatasan yang dijaga Israel. Serangan pun dimulai pada tanggal 27 Desember 2008, Hamas meluncurkan beberapa roket ke arah Israel.
7 hari pertama pasca serangan, tiba-tiba menjadi membabi buta. Pada 7 hari pertama itu, serangan dimulai dari udara, dengan intesitas dahsyat, yaitu 20 menit sekali serangan! Di minggu kedua, Israel memulai dengan altileri darat, menjaga perbatasan laut, namun PBB dan otoritas dunia masih dapat menyalurkan bantuan melalui Rafah, Mesir.
Puncak yang awalnya serangan menjadi agresi, yang tidak memandang bulu, baik wanita, anak-anak, dan manula terjadi pada hari ke-15 atau pada awal minggu ketiga. Mereka memulai bergerak, menjaga, lalu memantau setiap pergerakan bahkan anak kecilpun diperhatikan. Mereka mengepung setiap sudut kota Gaza, lalu mereka melanggar aturan perang dengan mengeluarkan bom fosfor putih, zat beracun yang dapat membuat sesak nafas, dan rasa terbakar hingga menembus kulit dan terasa di tulang. Mereka juga menyerang perbatasan, dan menutup terowongan yang ada di Rafah dengan bom-bom yang membabi-buta. Israel juga menyerang kantor PBB yang berisi logistik dan jurnalis yang niatnya hanya meliput. Puncak dari puncaknya ketika Israel telah membunuh salah satu petinggi Hamas.
Namun perang bukanlah penyelesaian yang abadi. Perang adalah salah satu unjuk gigi bahwa satu pihak yang bertahan (eksis) berarti menang. Kalau didefinisikan seperti itu, pemenangnya pasti Hamas, dengan sesekali menyerang, dan disokong oleh sekutu, mereka kuat menghadapi Israel yang korban jiwanya hanya 13, sedangkan Palestina sampai 17/1 sudah mencapai 1140 orang, 400-an adalah anak-anak.
Tapi ya akhirnya kita serahkan ke masyarakat, tentang definisi perang, dan siapa pemenangnya. Kita hanya bisa berdo’a untuk disadarkan keduanya. Semoga konflik ini berakhir dan kejadian ini segera dilupakan oleh kedua belah pihak. Yang kita butuhkan hanyalah optimis dan semangat menghadapi hidup ini.
Inilah perspektif dari saya, jika anda memiliki perspektif lain, silahkan berikan komentar pada tulisan ini.
Sekian
MAM
17 Jan 2009
Sabtu, Januari 17, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar