Jumat, Mei 28, 2010

Taman Fatamorgana

Semua mimpiku dibuyarkan oleh waktu Ternyata sudah waktunya Shubuh Aku pun memulai sembahyang Memohon semoga hari tidak memberi bala sial kepadaku Pamanku mengajakku jalan-jalan Tanpa elakan lagi aku menerimanya dengan senang hati Sementara Paman membawa anaknya tercinta Aku hanya membawa pakaian dan pengharapan datar Kumulai melangkahkan kaki beranjak keluar rumah Sepertinya aku mencium bau petualangan baru Namun dari depan rumah Pamanku angin pagi hampir menusukku Untung aku sudah membekali diri dengan minyak kayu putih Aku dan Pamanku sudah sampai tujuan Sebuah taman besar yang sangat ramai Semua orang sibuk akan kegiatannya di taman itu Taman itu layaknya surga yang fatamorgana Tiba-tiba bisikan Setan menghampiriku Mengajakku untuk berjalan lebih jauh Lebih jauh ke dunia Yang diisi oleh orang-orang yang suram Namun aku teguh dengan pendirianku Bisikan itu kutangkis dengan penyumbat telinga Lalu kulanjutkan perjalanan bersama Pamanku Mengelilingi taman bak surga itu Setelah mengelilingi taman itu perut terasa kosong Aku membutuhkan makanan Akhirnya aku dan Pamanku menemukan sebuah tempat makan Semoga itu bukanlah fatamorgana Kudekati tempat itu Tempat yang sepi Bercat biru Tapi berbau nikmat Ternyata itu bukan fatamorgana Itu adalah kenyataan Lalu kusantap apa yang hanya bisa kumakan Biar begitu perutku tidak mengeluh lagi Begitu lahapnya aku Paman hanya meminum kopi hitam Sedangkan aku menyantap susu coklat dan kue pancong Segera ku bersiap untuk menyongsong matahari dari arah timur.(*)

Jumat, Oktober 23, 2009

Janji Pandji

Pandji Pragiwaksono—presenter sekaligus penyanyi rap—menjadi salah satu bintang tamu yang diundang oleh Kompasiana pada saat peresmian ulang tahun pertamanya pada tanggal 22 Oktober 2009 bertempat di Mario’s Place Cikini Jakarta disaat sesi talk show tentang bagaimana pengaruh internet—khususnya blog terhadap kehidupan dan karirnya.

pandji sudah mempunyai blog sejak lama. Posting pertama dia tepatnya pada bulan Agustus 2004, yang isinya tentang mengeluh karena sedang masuk angin. Awalnya, pembawa acara Kena Deh! ini memakai blog sebagai tempat curhat—sampai hal-hal yang menurutnya kurang penting. Namun, dalam perkembangannya Pandji merasa esensi blog itu bukan terletak dari tulisannya, tetapi dari tanggapan atau respon dari pembaca. Maka sejak itu, ia membuat posting blog yang kebanyakan bertema sangat menggebu-gebu—tentang nasionalisme—yang membuat banyak tanggapan banyak pembaca, baik itu baik maupun kurang baik.

Sedangkan dari karir sebagai rapper, Pandji memulai dengan membuat album lewat aliran indie dan mencetak 3000 keping CD. Namun ada beberapa masalah yang menghambat penjualan, antara lain 1500 keping CD yang belum terjual. Lambat laun, Pandji menemukan cara terefektif untuk menjual sisa CD-nya itu—yaitu dengan internet. Ia menjual beberapa CD-nya dengan Twitter. Hasilnya? Sukses! Bahkan ada pembeli yang berasal dari Medan yang rela merogoh kocek sampai Rp130.000,- hanya untuk membeli dua album CD Pandji. Dan tentu saja, karena membeli langsung dari sang penyanyi, si pembeli diberi ‘bonus’ tanda tangan dan quote yang ditulis Pandji sendiri yang terinsipirasi dari bungkusan kue Fortune Cookies.

Sesuai dengan janji Pandji di semua lagunya juga di status-status Twitter-nya, ia mencoba untuk membangunkan rakyat Indonesia, bahwa kita punya segalanya, dan tidak bisa ditindas oleh bangsa lain. Semangat seperti ini sepertinya sudah memudar di era globalisasi ini. Lihat saja anak muda jaman sekarang—suka keluyuran, bahkan narkoba dan seks bebas, bukan ciri khas orang timur—yang sopan dan santun.

Dan sebagai insan Indonesia yang masih mencoba untuk bangkit, kita sepatutnya mengikuti semangat dan janji Pandji—menjadi nasionalis—tanpa harus melakukan perbuatan-perbuatan radikal!

MAM

23 Oktober 2009

Minggu, Juli 19, 2009

Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part IV: Wrong Decision)

(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur telah melakukan perjalanan. Banyak hal menarik yang telah mereka alami selama di perjalanan. Namun, saat mereka di pemberhentian terakhir di di kota Tegal, mereka merasakan sesuatu yang aneh, bahkan firasat yang buruk yang mungkin akan mencelakakan mereka. Apakah yang akan mereka lakukan kedepannya agar dapat menghilangkan perasaan tersebut?)

Angin dingin tiba-tiba berhembus. Padahal, daerah tersebut dikenal panas dan jarang membawa angin sejuk, apalagi kalau di siang hari. “Kenapa nih, kok tiba-tiba jadi dingin...?” Rini bertanya kepada kedua sepupunya sambil ketakutan.

“Eh, kok perasaan gua jadi gak enak?” lanjut Syukur melanjutkan ketakutan Rini.

Ternyata mereka tidak tahu bahwa tadi pagi ramalan cuaca mengatakan bahwa akan ada angin besar seiring dengan ketidaktentuan cuaca belakangan ini. Lalu, Ian mencoba bertanya kepada penjaga kios makanan di tempat makan SPBU itu, “ada apa ya Mas, kok tiba-tiba cuaca bisa tidak enak begini?”

“Mas gak nonton berita hari ini ya? Katanya hari ini di Tegal dan sekitarnya dirundung angin besar. Gitu Mas...” cerita sang penjaga kios makanan.

Dikabarkanlah berita tak sedap ini kepada kedua sepupunya. “Oh, pantas hari ini badan gua menggigil terus...” jawab Rini dengan nada datar, tidak seperti yang Ian duga. Namun Ian berfirasat buruk tentang hal ini. Apakah ini ada hubungannya dengan perjalanan mereka ke Gunung Slamet?

Jam 16.00. “Yak! Para penumpang bus ini diharap segera kembali ke bus segera! Bus akan segera berangkat!” seru sang kondektur dari pintu bus. Ternyata jam istirahat telah selesai. Akhirnya mereka bertiga bersegera menuju bus. Suasana bus setelah jam makan ternyata cukup ramai, tidak seperti beberapa waktu sebelumnya.

“Mending kita tidur, Ian. Agar tidak terbebani dengan hal yang lu ceritakan.” bujuk Syukur kepada Ian.

“Boleh deh...” balas Ian dengan nada murung.

Jam 16.45. masih di kabupaten Tegal. Ternyata bus Ian, Rini, dan Syukur terkena macet yang cukup panjang. Setelah diketahui, alasannya adalah banyak truk tangki BBM yang menuju Purwokerto namun melalui Pemalang, jadi macet pun tak terhindarkan. Setelah terbangun dari tidurnya, Syukur langsung mengambil kamera dan memotret apa yang terjadi.

“Wuiss, kok tiba-tiba langsung motret gitu Kur?” tanya Rini yang terheran-heran.

“Ya gak apa-apa, lagi ingin motret aja.” jawab Syukur yang sepertinya masih ngigau. “Begitu...” balas Rini dengan nada polos.

Jam 17.15. akhirnya, mereka mencapai tujuan. Mereka sudah sampai kabupaten Pemalang. “Ian! Ian! Kita sudah sampai Pemalang!” sahut Rini dan Syukur membangunkan Ian.

“Be, benarkah!?” kata Ian terbata-bata.

“Benar...! tapi kita masih di kabupatennya.” jawab Rini. “Kalau mau, lu bisa tidur lagi...” lanjut Syukur melanjutkan pembicaraan Rini.

“Gak ah! Gua ingin lihat pemandangan yang indah di sini!” tolak Ian dengan nada yang tegas.

Lalu, mereka membuat pesta kecil-kecilan dengan mengucapkan selamat serta mengabarkannya kepada teman dan sanak saudara. Masih terlarut dalam euforia itu, mereka tidak sadar bahwa sudah Maghrib. Ian menghampiri sang kondektur, dan berkata

“Mas, nanti kalau ada masjid, bisa berhenti tidak? Untuk sholat...”. “Bisa Mas!” jawab sang kondektur dengan antusias.

Jam 18.00. bus Ian, Rini, dan Syukur telah mendapatkan masjid untuk sholat maghrib. Segera para penumpang yang diwajibkan untuk menunaikannya turun dari bus dan bergegas menuju masjid. Singkat cerita, mereka telah menunaikan ibadah sholat. Namun, sang supir memutuskan beristirahat sejenak untuk menghindari kecelakaan pada malam hari.

Banyak para penumpang yang memilih untuk kembali ke bus. Tetapi Ian, Rini, dan Syukur masih berada di masjid sambil memandangi langit.

“Indahnya langit Pemalang!” sahut Syukur.

“Serta udara malamnya sangat sejuk, gak seperti di Jakarta!” lanjut Ian.

Tiba-tiba sang muadzin masjid tersebut datang menghampiri mereka, “Mas, Mba, kok kalian di luar? Ayo masuk! Cuaca lagi tidak bagus ini...”.

Seketika mereka bertiga terhenyak. Udara yang mereka bilang sejuk itu kata orang Pemalang dikatakan sedang buruk.

“Terima kasih, tapi sebentar lagi kita berangkat!” jawab Ian dengan halus.

“Oh iya tidak apa-apa, semoga sampai tujuan ya!” salam sang muadzin sembari mendoa’kan agar mereka bertiga selamat.

Jam 18.20. semua penumpang telah siap. Sang supir diganti dengan si kondektur. Setelah mesinnya dinyalakan, bus sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Suasana di bus masih cukup ramai dengan sedikit obrolan. Sementara Rini ke hobi kesenangannya yaitu mencatat kejadian harian di buku harian, sementara Ian kembali ke kebiasaannya, yaitu bicara tentang sepakbola dengan Syukur.

“Gara-gara kita gak lihat TV, kita ketinggalan sepakbola nih!” kata Ian menyesal.

“Yah, payah lu! Tim kesayangan lu, MU, kalah di final Liga Champions!” seru Syukur dengan bangga, karena dia benci sekali dengan MU.

“Gak apa-apa deh, yang penting gua nonton saat MU mau ke Indonesia... gua sudah nabung nih!” sahut Ian semangat.

“Iya iya... nanti kalau ada lebih buat gua ya!” balas Syukur berharap bisa juga menonton pertandingan Indonesia All-Star vs MU.

Jam 19.00. Karena tidak ingin terkena kecelakaan, maka sang supir ini berjalan dangan sangat hati-hati. Kebanyakan para penumpang mengabarkan kepada sanak saudara bahwa mereka akan sampai tujuan. Sedangkan Ian, Rini, dan Syukur tengah asyik mengobrol.

Tengah asyik mengobrol, Ian mendengar riuh dari luar. Segera Syukur yang berada di samping jendela menengok ke arah jendela. Dilihatnya riuh para pedagang yang sedang berjualan dagangannya, serta lampu yang gemerlap. Mereka sudah sampai di pusat kota! Ian, Rini, dan Syukur mengambil senyum simpul dalam langkah pertamanya setelah melihat pusat kota Pemalang. Ternyata apa yang duga berbeda. Kota Pemalang yang mereka kira masih jauh tertinggal dari peradaban modern ternyata sudah cukup berkembang, bahkan sinyal HP Rini masih kuat disana. “Waah... kayaknya enak nih tinggal disini!” seru Ian sangat gembira.

Terus bercerita tentang keindahan Pemalang, ternyata bus terus melaju hingga melewati ingar-bingar pusat kota Pemalang, dan terus melaju ke daerah hutan lindung.

“Lho, kita kemana nih!?” bisik Rini ke Ian. “Iya Ian! Gua jadi khawatir!” lanjut Syukur berbisik ke Ian.

“Tenang saja, kita tetap pada jalur...” jawab Ian menenangkan kedua sepupunya.

“Lu itu udah bikin khawatir orang tua, keluarga, teman, dan yang lainnya kalau begini caranya!” bentak Rini marah.

“Tenang dong! Kalau pada marah-marah begini, gua malah susah...!” balas Ian tak mau kalah.

“Eh, udah dong...! Malu-maluin banget sih!” bisik Syukur pada kedua sepupunya. “Bisa aja kita dikeluarkan dari bus ini kalau kita berisik lagi!” lanjutnya dengan pelan.

Jam 20.00. Daripada tersesat, sesegera Ian bertanya kepada sang supir. “Mas, kalau tujuan Gunung Slamet kemana ya?”.

“Yah ampun Mas, kalau dari Randudongkal malah makin jauh! Mas salah ambil bis!” balas si supir.

“Eh gimana?” tanya kedua sepupunya. “Kejauhan.” Balas Ian dengan lesu.

Setelah itu dia mengambil kursinya dan duduk terlelap. Dengan kecewa, Rini dan Syukur akhirnya menutup perlahan kedua kelopak matanya.

Jam 20.30. Syukur terbangun dari tidurnya. Ia melihat pemandangan dari jendela tempat ia duduk.

“Subhanallah! Keren banget!” seru Syukur.

“Ada apa!?” seketika Ian dan Rini terbangun mendengar suara kencang Syukur.

“Oh enggak, Cuma pemandangan disini bagus.” Jawab Syukur.

“Dikira ada apa Kur...” jawab Ian yang langsung tidur lagi.

Jam 21.00. Rini yang terjaga sejak teriakan Syukur itu sedang sibuk dengan diary-nya, melihat catatan-catatan segala kejadian yang terjadi dari keberangkatannya. Sementara Syukur asyik melakukan hal tak jelas, di diary kesayangan Rini itu terselip secarik kertas. Ada apa dengan diary Rini? Apa isi kertas itu? Siapa yang menaruhnya di diary-nya? (bersambung)

Twitter-ku