Sembari mengecek peralatannya, Ian mencoba menghubungi kedua sepupunya, Rini dan Syukur. “Rin, jadi gak nih? Gua sudah mengemas peralatannya!” seru Ian dengan nada agak tidak sabaran. “Iya, iya. Gua juga udah mengecek peralatan. Tapi Syukur dari tadi gak bisa dihubungi!” jawab Rini. “Ya udah, berarti nanti kita datangi rumahnya saja... emang ngerepotin tuh anak!”, kata Ian dengan menggerutu kesal. Ian, Rini, dan Syukur adalah mahasiwa-mahasiwi bersaudara jurusan geologi yang sedang menyelesaikan tugas skripsi mereka yang notabene tinggal dua bulan lagi. Mewarisi hobi dan pekerjaan bapaknya yang seorang hiker, Ian sangat antusias jika mendengar hal yang berhubungan dengan gunung. Baginya, memanjat gunung sudah seperti santapan setiap bulan. Berbagai gunung di Jawa Barat sudah ia daki semasa kecil bersama bapaknya, seperti gunung Salak, Ciremai, atau gunung Tangkuban Perahu. Namun, mendaki di Jawa Tengah, khusunya di sisi utara merupakan hal baru baginya. Mungkin karena trauma oleh kematian bapaknya saat mendaki gunung di Jawa Tengah. Sementara bagi Rini dan Syukur, ini yang pertama kalinya mereka mendaki gunung yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka masing-masing. Bel rumah Syukur berbunyi. Di hari daerah rumahnya yang cukup panas tersebut, datanglah dua orang berjaket tebal menghampiri rumahnya. “Permisi!”, sapa Ian dengan sesekali memencet bel. Terdengar suara lembut menjawab. “Oh, nak Ian dan dek Rini! Ada apa ya?”, kata mbok Imah, pembantu yang sejak kecil bekerja di rumah Syukur. “Anu Mbok, saya ingin mencari Syukur. Ada tidak?”, tanya Ian yang mulai memerah mukanya karena kepanasan. “Mas Ian belum bangun...”, jawab mbok Imah yang kemayu jika berbicara. “Apa!? Dari tadi belum bangun!?”, kesal dan menggerutulah Ian. “Gila tuh orang! Kita sampai keringetan, dia belom bangun juga!”. “Ya udah, kita masuk ya mbok?”, kata Rini sambil membawa Ian yang masih terbawa emosi.
Dari pintu kamar Syukur terdengar suara ketukan dan perkataan yang terkesan nafsu. “Kur, bangun lo! Mau dapet kendaraan jam berapa!? Lu mau nginep di gunung? Belom lagi kalo nyasar Kur... BANGUN!!!”. Dalam hatinya sudah menebak bahwa itu adalah teriakan Ian. Bangunlah Syukur, ternyata sudah ada dua “malaikat pencabut nyawa” di hadapannya, namun kali ini memakai jaket berwarna warni dan membawa koran yang digulung-gulung menjadi layaknya sebuah pentungan, sesuai khayalan Syukur. “Ampun malaikat, hutang saya masih banyak, belum punya istri, dosa berat semua... jangan cabut sekarang ya...?”, kata Syukur meminta ampun dari sang “malaikat pencabut nyawa” ini. Bukannya terdengar tebasan darah atau teriakan, justru terdengar bisikan, ”NYADAR! Mau berangkat jam berapa??”. Ternyata bisikan itu berasal dari kedua sepupunya. “Sekarang deh,”, jawab Syukur. “Maaf kalau bikin telat...”. Dalam hati, Ian berkata, “ya iyalah, lu kan jagoan bangun siang!”. “Gara-gara dia mulu kita telat...”, keluh Rini, “lain kali berangkat jam 4 pagi aja kali ya biar gak telat??”, lanjutnya. Akhirnya, setelah mandi dan berkemas, Syukur langsung berbaur dengan rencana yang dibuat oleh Ian. “Jadi, pertama mau naik kereta atau bus?”, tanya Ian. “Bus!”, syahut Syukur. “Tapi gua maunya kereta!”, tolak Rini. “BUS!”, “KERETA!”, “BUS!”, “KERETA!”. Mereka berdebat layaknya anggota dewan yang tidak mau mengalah, berbalas pantun layaknya puitis. “BERHENTI!!!”, teriak Ian. “Kita ini sudah terlambat, kalau masih mikirin debat begini, gimana mau sampai!? Mikir dong!”, marah Ian, karena memang dia paling tidak suka terlambat. “Udah, gua aja yang nentuin!”, seru Ian. “Kita naik bus! Gua pilih bus karena selain menghemat biaya, menghemat waktu jika di sini ke terminal...”. “Apa?”, teriak Rini dengan nada kecewa. “Yes! Bisa ngehemat trus belanja-belanja deh!”, seru Syukur seperti orang gila. “Heh Syukur, berarti kalau bawa uang banyak traktir gua ya?”, pinta Rini. “Sama keluarga, sepupu, dan ponakan gua tentu!”. “Udah ah, kalau mau belanja, gua turunin di Brebes aja ya, beli telor asin, kalau nggak di Tegal...”, kata Ian. Setelah masalah transportasi selesai, mereka membicarakan rute yang akan dilalui. “Kita mau lewat mana? Mau langsung ke Banyumas atau lewat Pemalang?”, tanya Ian. “Hah? Pemalang, apaan tuh?”, tanya Rini dengan sedikit kaget, sepertinya kata ini terdengar asing untuknya. “Pemalang, alat untuk kita mengambang di dalam air...!”, kata Syukur yang sepertinya memberi tebakan. “Itu sih namanya pelampung, Kur! Jangan berlagak pilon deh!”, jawab Rini yang kesal dengan salah satu sepupunya yang paling bandel sendiri saat dia kecil, khususnya untuk menjahili Rini. “Pemalang itu salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Tapi kayaknya ini sih kota kecil, fasilitas pariwisatanya sedikit, namun lewat sini rutenya cukup murah. Gimana semuanya?”, tanya Ian. “Terserah kamu aja deh...”, sahut mereka berdua. “Yang penting kita selamat di sana, amiin...”. Setelah selesai dengan rencana mereka, mereka berdoa, agar mereka selamat sampai di tujuan. “Mari kita berdoa agar sampai tujuan dengan selamat, berdoa mulai!”. Setelah berdoa dengan khusyuk, mulailah pejalanan mereka. Karena rumah Syukur yang tidak jauh dengan terminal Kampung Rambutan, maka dengan bejalan kaki selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di terminal tersebut.
“Aduh, sumpek banget sih! Gak kuat nih!”, keluh Rini yang memang hidupnya cukup bersih. “Lu kuat tiap hari bau terus Kur?”, tanya Rini sambil menutupi hidungnya dengan sarung tangan. “Ya ampun, begini aja masa’ gak kuat? Emang cewek ngerepotin ya?”, ejek Syukur. Sementara kedua sepupunya bersitegang, Ian duduk di kursi tunggu dekat kios minuman terngiang kata-kata bapaknya sebelum meninggal sambil memegang mendiang bapaknya, “nak, yang penting kamu harus hidup bahagia, tentram, dan sukses. Dan jangan pernah patah semangat!”. Dengan memegang foto mendiang bapaknya, tanpa sadar air matanya jatuh sedikit-sedikit ke permukaan tanah dengan sedikit perasaan pilu di hati. Sementara Rini dan Syukur bersitegang, mereka baru ingat, “eh, si Ian mana?”, seru Rini yang orangnya gampang panikan. “Gak tau. Lu aja gak tau, apalagi gua...”, jawab Syukur dengan nada tinggi. “Lu sih! Coba lu gak ngajak ribut gua, gak lama nih cerita!”, bentak Rini kepada Syukur. “Enak aja lu nyalahin gua! Lagian begitu aja gampang ngambek!”, balas Syukur yang membela dirinya sendiri. “Makanya, dari dulu tuh gua males kalau jalan sama elo!”, gertak Rini yang amarahnya langsung naik drastis. “Ok, ok! Lebih baik sebelum mencari kita beli minuman dulu? Ok?”, kata Syukur yang mempunyai ide. “Ya dah, tapi lu beliin gua minum ya?”. Kata Rini. “Duit gua mau dihemat dulu. Biar bisa bayar kos-kosan... Ok?”. Lalu Syukur menjawab, “ya ya. Oce deh!”. Setelah mencari sekian lamanya, merekapun mendapat apa yang mereka inginkan. “Tapi kan sekarang sudah Dzuhur, kita sekalian makan ya?”, pinta Rini yang berharap ditraktir makanan dari Syukur. Dengan mengeluh, Syukur mengiyakannya. “Huuh, ya udah!”. Ternyata, saat mau ke resto yang katanya paling enak di terminal ini, bertemulah sosok berjaket dengan tas besar di sisinya. “Eh, lihat deh! Itu siapa? Kayak Ian?”, tanya Rini ke Syukur. Setelah diteliti secara seksama, ternyata... “Ian!”, sahut mereka berdua. “Kemana aja lo? Padahal kita baru mau makan di sini!”, tanya Syukur. “Mmm... gak apa-apa, tadi habis beli minum. Yok kita mulai perjalanan kita!”, sahut Ian yang penuh semangat, berputar 180o dengan keadaan sebelumnya. “Ya ampun, sekarang matahari udah ada di atas kepala persis, kalau gak makan dulu bisa pingsan kita-kita!”, gerutu Rini. “Huuh, ya udah kita makan dulu!”, kata Ian. “Yes, kita katanya mau ditraktir sama Syukur!”, seru Rini. Dengan nada menolak, Syukur membantah, “gila aja lu! Duit gua habis gara-gara beginian lagi... kalo gak bawa apa-apa dari luar kota nanti pada dendaman lagi...”. “Ya ampun, daripada ribut lagi, gua aja deh yang traktir!”, kata Ian. Sesudah kenyang di resto yang katanya paling enak di terminal Kampung Rambutan, semua bersiap menuju ke gunung Slamet. “Ok! Let’s go!”, seru Ian yang keliatannya semangat biarpun harus merogoh kocek lebih dalam, sementara Syukur justru lemas tak berdaya setelah kekenyangan dan mulas sedikit-sedikit. “Sudahlah, kalau rasa kayak gitu mah bisa hilang sendiri...”, bujuk Rini. “Ya udah deh... huuh...”, kata Syukur yang rasa mulasnya semakin mengerucut. (bersambung)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar