Jumat, November 28, 2008
Antara “Elit” dan “Merakyat”
Posted by
ammarmahardika
at
14.34
Saya yang biasanya tidur setelah sholat Shubuh pada hari ini tidak. Saya justru ingin mencoba Internet saya yang baru. Maklum, saya sudah kecanduan Internet. Hari saya tidak telat seperti biasanya. Jadi, saya diantar oleh orang tua saya. Setelah sampai di sekolah, tiba-tiba saya dihadapkan pada satu hal yang membuat saya penat: PR dan tugas. Saat teman-teman menghadapi remedial pelajaran Bahasa Inggris ,bagi yang tidak remedial, saya ditugaskan untuk mengarjakan halaman sisa buku untuk semester I. Setelah itu. Pelajaran yang juga cukup penat bagi mayoritas: IPA. Pelajaran menjadi sangat lama, bahkan kami hanya diberi istirahat tidak sampai 20 menit. Dan mata pelajaran yang gurunya paling tepat waktu: Matematika. Terasa penat sekali.
Saya bukan curhat, melainkan ingin membahas tentang satu: Dominasi. Ya, dominasi untuk menjadi penguasa, bukan persaingan untuk menjadi nomor satu, seperti beberapa teman-teman saya yang pintar. Para “Elit” ini memamerkan kelihaiannya hanya ketika dihadapan banyak orang. Bahkan, mereka mendominasi dengan cara yang tidak baik, seperti provokasi, intimidasi, dan sebagainya. Hal seperti ini terasa sekali pada kelas kami. Dominasi ini seperti orang DPR, di dalam hatinya hanya ada rasa ingin menyakiti atau mengecewakan orang lain. Mereka seperti tidak memberikan kesempatan bagi yang lain untuk berbicara, seperti dikekang. Sampai saya melihat dan membayangkan saja bosan. Bagaimana tidak, sampai gurunya saja memilih yang itu-itu saja. Karena mereka ingin dilihat oleh guru sebagai pendominasi, bukan pesaing. Banyak orang pintar dan tahu di kelas kami, tapi justru yang muncul hanya kesombongannya. Kepintarannya seperti dari kesombongannya tersebut.
Mungkin para pejabat telah “belajar” dari contoh kecil tersebut. Akhirnya, dalam hati mereka tertanam rasa bangga terhadap dominasi, sepertinya dominasi adalah jalan menuju “sukses”. Tidak seperti para rakyat. Mereka telah melalui penderitaan sebelum menjadi sukses, mereka hanya ingin bersaing. Bahkan, kebanyakan orang yang “merakyat” tidak ada yang ingin menjadi “Elit”. Mereka hanya ingin “merakyat”, seperti orang lain, tidak mau menikmati hasil jerih payah sendiri, mereka ingin berbagi. Karena oleh orangtuanya sudah ditanamkan hati “merakyat”. Makanya, saya tidak minder bila uang saya lebih sedikit daripada teman-teman saya. Tidak seperti para “Elit” yang sejak kecilnya sudah disuguhkan kemewahan-kemewahan pada jaman masing-masing.Seperti sepeda, sepatu yang berganti tiap minggu, atau baju bagus. Atau pada jaman sekarang anak-anak menghamburkan uang hanya untuk SMS-an, bermain di warnet rutin setiap hari, atau bahkan diijinkan membawa motor tanpa orang tuanya khawatir. Akhirnya, mereka menjadi manja dan Negara ini menjadi lemah.
Ada baiknya jika kita janganlah melupakan akar-akar, jadilah “merakyat” seperti para pendahulu kita yang tertanam hatinya agar “merakyat” . Bersainglah agar menjadi menjadi nomor satu, jangan hanya mendominasi agar menjadi nomor satu. OK!?
Sekian dari saya, semoga bermanfa’at bagi kita semua, amin
Wassalam
MAM
28 Nov 2008
Selasa, November 25, 2008
uneg-uneg banjir II
Posted by
ammarmahardika
at
05.09
Assalamualaikum!
Karena saya masih anak-anak, saya juga membutuhkan istirahat. Sekarang kita lanjutkan. OK?
Lagi-lagi, masalah seperti ini disebabkan oleh yang satu ini: Uang. Ya, gara-gara ingin untung, hutan menjadi buntung, contoh: pengalihfungsian hutan lindung, Illegal Logging, dan sebagainya. Orang juga bisa dibodohi oleh uang. Contoh: seorang pengusaha yang ingin membuat sebuah proyek real estat di areal persawahan, mereka memberi uang agar bisnisnya lancar. Akhirnya, lahan disekitarnya pasti akan digunduli. Makanya, mulai dari sekarang, kita harus memerhatikan lingkungan kita, jika tidak, maka akan terjadi hal yang lebih parah dari resesi global, yaitu pemanasan global.Karena kalau banjir, pasti bisa menimbulkan beberapa bencana dan penyakit lainnya, contoh: Longsor, malaria, minum air yang tidak sehat,dsb. Saya punya tips, yang (Insya Allah) bisa mengurangi dampak bencana terparah di Negeri kita tercinta ini.
- Membina dan Menjalin Persatuan dan Kesatuan
Maksudnya, jika kita membina dan menjalin persatuan dan kesatuan, maka tidak akan terjadi perselisihan diantara kita. Contoh: tidak ada orang yang menolak ikut kerja bakti mingguan di RT/RW setempat karena di dalam hatinya sudah tertanam persatuan dan kesatuan agar tidak ingin negeri tercintanya tidak terkena bencana, atau banyak orang yang tidak membuang puntung rokok sembarangan.
2. Cinta kepada Makhluk Tuhan
Maksudnya, jika kita sayang pada makhluk tuhan, maka otomatis, Tuhan dan makhluk-Nya akan menyayangi kita. Contoh, bapak saya membiarkan pohon jambunya menjulang tinggi dan tidak diberi pestisida, hasilnya? Alhamdulillah, buahnya jadi subur dan enak dan banyak ysng memetiknya.
3. Perkaya Pengetahuan Kita Maksudnya, jika kita belajar, kita lebih tahu bagaimana cara mengatasi banjir, perubahan cuaca, Bahkan yang tidak berhubungan dengan banjir, seperti membuat makanan tanpa minyak goreng. Maka dari itu, kita harus belajar untuk masa depan yang lebih baik. Sekian dari saya, semoga bermanfaat, Wassalam, MAM 25 Nov 2008
Minggu, November 23, 2008
uneg uneg banjir (lagi)...
Posted by
ammarmahardika
at
21.20
Assalamualaikum!
Sori, yang pertama itu hanya untuk tes saja. Sekarang, baru, saya akan menceritakan uneg eneg saya.
Sejak beberapa minggu yang lalu, perhatian rakyat Indonesia tidak lagi tertuju kepada resesi global, sepak bola kita yang acakadul, atau ulangan tengah semester pada bulan depan (Desember) bagi anak-anak. Tetapi satu; Banjir. Ya, bagi para pengangguran--yang terkena dampak resesi global--akan lebih sulit mencari kerja, pasalnya, dokumen-dokumen penting mereka, mungkin hanyut terbawa oleh sungai. Sementara para pecinta bola menderita 2 kali. Setelah liga terbaik di dunia hanya bisa ditonton lewat TV satelit/kabel prabayar, mereka juga harus alat elektronik kesayangannya, Televisi. Namun, mereka berdua belum ada apa-apanya. Para anak sekolahan harus merelakan alat modal mereka menuju kehidupan yang lebih baik, yaitu buku serta peralatan tulis. Mungkin kalau mereka tidak belajar, hidup sehari-hari mereka akan sulit, tidak seperti para pengangguran dan pecinta bola tadi.
Para pejabat itu sepertinya tega sekali. Buktinya, usaha yang bikin untung saja dikorupsi, contoh: Proyek Tanahabang di Jakarta yang dikorupsi hingga 3 M! Gimana yang gak bikin untung sperti BKT (Banjir Kanal Timur) di Jakarta yang untuk mendampingi Banjir Kanal Barat yang sudah dibuat tahun 1933? seharusnya, para pejabat-pejabat bisa memahami arti penderitaan bagi rakyat yang sulit cari makan di negeri yang tercinta ini. Tapi, jika tidak dimulai dari kita, bagaimana bisa? contoh, kita menegur orang yang suka membuang puntung rokok sembarangan, tetapi kita juga suka buang sampah sembarangan...
Ya sudah, besok kita lanjutkan lagi uneg-uneg nya. OK?
wassalam,
MAM
23 Nov 2008
uneg-uneg banjir
Posted by
ammarmahardika
at
21.09
Assalamualaikum!
Perkenalkan, nama saya M Ammar Mahardika. Terserah anda mau menyebut saya apa. Yang jelas satu, saya hanya rakyat biasa yang memberikan uneg-uneg setelah penat belajar di sekolah...Saya ingin memberikan uneg-uneg saya yang pertama setelah membuat blog ini.
Langganan:
Postingan (Atom)

