Rabu, Mei 27, 2009

Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part III: Weird Feel)

(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur mencari bus yang bertujuan ke Pemalang atau sekitarnya, namun sampai larut malam mereka belum juga berangkat dari terminal karena berbagai alasan. Akhirnya, mereka mendapatkan bus yang bertujuan Pemalang. Adakah petualangan-petualangan menarik lainnya pada mereka? Kita baca lanjutannya berikut ini!)

Jam 5.15 pagi. “Yak, terima kasih. Terima kasih telah menggunakan jasa transportasi kami. Semoga berkenan di hati penumpang, silahkan menikmati perjalanan anda...!” kata sang kondektur beberapa meter setelah keluar dari gerbang terminal Kampung Rambutan. Hal seperti ini biasa terjadi, terutama pada bus AKAP. Sementara para penumpang lain tenang, Ian, Rini, dan Syukur justru asyik sendiri. “Ini nih, no. 5, lawan kata pro, 6 huruf...” kata Syukur sambil menelaah kata perkata yang ada pada buku TTS. “Ah, gua tau! Kontra!” sahut Ian bersemangat membuat para penumpang seketika melirik mereka bertiga. Sedangkan Rini yang bertugas sebagai pencatat segala jawaban yang mereka temukan.

Jam 7 pagi. Tidak terasa, sekarang posisi sudah sampai di tol Cikampek-Bandung, tepatnya masih di daerah kota Bekasi. Karena hari kerja, pagi hari mereka terjebak macet di jalan menuju tol. “Gak kerasa udah sampai sini!” sahut Ian yang sepertinya merasa puas, setelah berhari-hari lamanya menunggu hal ini. “Cuy, gak kerasa udah setengah buku TTS kita...” sahut Syukur sambil memperlihatkan buku TTS pembeliannya yang TTS-nya sudah dijawab mencapai setengah dari seluruh halaman buku tersebut kepada Ian dan Rini. “Seru juga kalau begini terus! Hahaha...” seru Ian sambil tertawa bersama Rini dan Syukur.

Jam 9 pagi. Menuju keluar gerbang tol Cikampek-Subang. Para penumpang lain mulai menampakkan kejenuhan mereka, namun Ian, Rini, dan Syukur belum selesai dengan aktivitas gilanya yang sepertinya sangat menggangu penumpang lain. “Udah ah, capek nih gua!”, kata Rini yang tangannya mulai letih menulis jawaban di buku TTS pembelian Syukur. “Ya udah. Sekarang mau ngapain lagi?” tanya Ian yang berusaha mengisi waktu di bus. “Istirahat dulu deh!” cetus Syukur dengan semangat yang mulai menurun. “Kalau begitu, nih!”, sahut Rini sambil mengeluarkan sebotol minuman penyegar. “Gua udah bawa 3 dari rumah!” katanya dengan bangga. Dibagikannya minuman itu. Serentak mereka meminumnya membuat mereka tidak lagi dahaga.

Jam 10 pagi. Masih di daerah kabupaten Subang. Ian memperhatikan aktivitas penduduk sekitar melalui jendela bus. Ada yang masih menjajakan makanan, atau para murid sedang melakukan kegiatan belajar-mengajar. Sementara Ian melihat sekitar, tiba-tiba bus mengerem mendadak. CIIT!!! “Ada apa ini!?” seru penumpang yang terbangun dari tidurnya di bus. “Ya, ada apa ini!?” tanya penumpang lain yang mulai menanyakan apa yang terjadi. Hati Ian mulai bertanya, “aduuh, aman gak ya perjalanan kita nanti?”. Setelah diizinkan, para penumpang turun. Bahkan mereka tidak percaya apa yang mereka lihat. Sebuah truk gandeng yang membawa produksi pabrik terguling menabrak sisi jalan sejauh hampir 1 kilometer dari arah berlawanan. Setelah dikonfirmasi, para saksipun tidak tahu sebab kecelakaan ini. Supir dan semua penumpangnya dipastikan tewas. “Waw, gila bener...!” seru Syukur yang turut keluar dari bus untuk melihat kejadian. Dan pasti, para pengguna jalan tertahan berjam-jam di TKP.

Jam 11.30 pagi menjelang siang. Polisi, pemadam kebakaran, dan para wartawan seketika mengumpul bak semut. Otomatis antrian panjang menjulang, mungkin kira-kira sampai hampir 15 kilometer. Segera Syukur mengambil kamera kesayangannya dan mendekati TKP lalu memotret apa yang bisa dipotretnya. Mungkin hal itu dilakukan Syukur untuk numpang masuk TV. “Aduh, mulai panas nih!” keluh Rini sambil mengipasi dirinya. Sementara penduduk sekitar dan pengguna jalan heboh dengan peristiwa aneh tersebut, Ian dan Syukur memilih untuk makan di warung tegal dekat dengan tempat busnya tertahan. “Ah, emang paling enak ngaso di warteg...” kata Ian dengan salah satu kaki di atas kursi, gaya klasik kalau makan di warteg. Syukurpun tak jauh beda dengan Ian. “Setuju! Semoga masih lama!” katanya sambil meminum es teh pembeliannya di warteg itu. Sementara itu Rini mencari mereka berdua. “Ian? Syukur? Dimana lu?” sahut Rini mencari mereka berdua. Untungnya tidak jauh dari bus, langsung Rini mendatangi mereka.

“Kemana aja lu!?” gerutu Rini kesal karena dirinya ditinggali oleh kedua sepupunya. “Sabar dong! Lagi enak-enak juga...” protes Syukur yang meminta tambah es tehnya, saking panasnya cuaca di sana. Sambil menyiapkan minum, mereka ditanya oleh sang empunya warteg, “mau pada kemana toh nak?”. “Ng, anu, kami mau pergi mendaki ke gunung slamet...” jawab Ian. “Lho? Kamu gak lihat di TV sekarang kalau gunung Slamet sekarang statusnya siaga?” tanya sang empunya warteg. Dengan ragu, Ian menjawab “ng, Insyaallah gak ada apa-apa...”.

Jam 12.00 siang. Setelah kasus ini diambil alih dan ditindaklanjuti oleh polisi, maka jalur dari arah Jakarta terpaksa dialihkan ke jalur yang ke arah Jakarta. “Yak penumpang yang dari arah Pemalang diharap segera berkumpul dan duduk di tempat masing-masing!” teriak sang kondektur dari bis yang ditumpangi Ian, Syukur, dan Rini. “Akhirnya berangkat juga...” lega Rini yang sepertinya hanya menginginkan dinginnya AC daripada perjalanannya. Di saat lega seperti itu, tiba-tiba Syukur menyelak, “eh, tapi kalau yang dikatakan Ibu yang jaga warteg itu benar gimana?”. “Bener juga tuh!”, jawab Rini. “Eh, kok lu berdua jadi gak yakin gitu sih!? Yang penting kita punya niat untuk ke sana! Yang begini udah gak bisa ditunda!” teriak Ian dengan nada emosi. “Kalau gitu kapan-kapan harus siap beli koran tiap hari nih...” cela Syukur yang berusaha menenangkan suasana.

Jam 14.00. tak terasa sudah mencapai Losari. Dalam perjalanan, setelah konfrontasi sengit antara 3 saudara tadi, suasana menghening. Mereka bertiga memilih diam sambil tidur daripada menguras energi lebih banyak lagi. Sang supir yang jenuh akan kemacetan truk di Losari, mulai menyetel lagu kesukaannya lewat HP, yang kebanyakan diisi oleh lagu Campursari. “Selamat datang di Jawa Tengah...” sahut Ian dengan pelan kepada kedua sepupunya.

“Akhirnya! Sampai juga di Jawa Tengah!” teriak Syukur dengan rasa puas. Sementara Rini mengakses Facebook-nya lewat HP. Ketika Rini sibuk dengan HP-nya dan Syukur sibuk dengan kameranya, Ian bertanya kepada penumpang disebelahnya. “Misi mas, mas ini tujuannya kemana ya?”. “Oh, saya mau pulang kampung.” jawab pemuda yang ditanya oleh Ian. “Dimana ya kampungnya mas?”. “Kampung saya di Randudongkal...” jawab pemuda itu dengan logat halus khas Purwokerto. “Randudongkal itu dimana ya mas?” tanya Ian yang belum bosan. “Setelah kota, lurus terus, sampai bertemu hutan. Ikuti saja hutan itu. Patokannya terminal Randudongkal deh mas.” jawab pemuda tersebut dengan sedetil-detilnya. “Oh, terima kasih ya...” balas Ian. “Sama-sama.” jawab sang pemuda.

Jam 15.30. Sudah di perbatasan Tegal. “Subhanallah, keren banget lautnya!” seru Syukur memandangi tepi jalan yang kebetulan laut. Sementara Ian masih gelisah dengan apa yang dikatakan oleh sang penjaga warteg waktu mereka di Cirebon. “Apa benar ya yang dikatakan ibu tadi?” gumamnya sambil gelisah. “Yah ampun, baterai gua habis!” gerutu Rini secara kasar. “Ngerepotin aja nih HP! Dipakai internet-an sebentar habis!”. “Udah udah, gak enak dilihat orang...” bisik Ian ke telinga Rini. “Dari tadi kita mulu yang berisik...” lanjutnya. Akhirnya, dengan sedikit perlahan emosi Rini mulai mereda.

Jam 16.30. para rombongan bus berhenti di SPBU di dekat kota Tegal sekaligus untuk istirahat. “Laper nih! Cari makan yuk?” sahut Syukur yang mulai memegang perutnya. “Duh, tapi gua ke kamar mandi. Kalau gitu, lu cari tempat duduknya yang deket sama kamar mandi. Biar gampang ketemunya. OK?” usul Rini. “Ya udah deh... yang penting makan...” jawab Ian yang juga mulai lapar.

Setelah mencari dan memilih makanan serta memilih tempat duduk, Ian dan Syukur menyantap makan siang mereka. Sementara itu, Rini masih mencari Ian dan Syukur. “Aneh nih dua orang itu! Katanya di kamar mandi, tapi kok gua cari gak ada ya...?”. Tiba-tiba, Rini melihat kedua sepupunya di dekat tempat memesan makanan. “Yah ampun, katanya mau di deket kamar mandi, kok disini!?” gerutu Rini. “Lho, kata lu di deket kamar mandi, kita udah di deket kamar mandi...” jawab Syukur dengan santai sambil menunjuk plang yang ada dibelakangnya. “YA AMPUN!!! Lu tuh bego apa bego sih!? Maksud gua tuh kamar mandi CEWEK!!!” teriaknya dengan rasa kesal yang makin menjadi. Mendengar kemarahan sepupu perempuannya, Ian dan Syukur justru tertawa keras.

“Hahaha...! dikerjain mau aja. Selamat ulang tahun ya!!!” seru kedua sepupunya.

Ternyata, hari itu adalah ulang tahun Rini. Sambil terharu, Rini membalas ucapan dari kedua sepupunya itu. “Makasih ya...! dikirain emang pada blo’on beneran, ternyata cuma ngerjain aja toh...” dengan mata berkaca-kaca. “Maaf ya kalau kita gak bisa ngasih kado bagus, soalnya duit lagi pas-pasan nih... hehehe...” kata Ian. “Sebagai gantinya, gimana kalau kita traktir makan disini?” sambung Syukur. “Apapun yang lu kasih, bagi gua itu yang terbaik...!” kata Rini layaknya seorang pujangga.

Akhirnya mereka bertiga bersenang-senang. Namun tiba-tiba perasaan aneh menimpa Ian, Rini, dan Syukur. Jantung terasa berdebar, syaraf menjadi kaku, nafas semakin tegang. Apakah yang terjadi?? (bersambung)

Sabtu, Mei 02, 2009

Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part II: From Jakarta)

(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur adalah tiga mahasiswa-mahasiswi jurusan geologi yang ingin menyelesaikan skripsinya masing-masing. Dalam rangka mewjudkan hal tersebut, maka mereka memutuskan untuk menyelesaikan skripsi mereka bersama-sama. Mereka memutuskan untuk menyelesaikan skripsinya di gunung Slamet, di daerah Jawa Tengah.)

Sambil mengeluh dan keringetan karena kepanasan, mereka mencari-cari bus jurusan Pemalang atau sekitarnya, namun mereka belum dapat menemukannya. “Aduuh, Ian! Kok gak ketemu...?” gerutu Syukur sambil mengelus-elus perut buncitnya karena kekenyangan. Dengan sesekali mengusap keringat di dahi, Ian menjawab, “kalau begini, kita tanya aja deh!”. Ditemuilahnya penjaga WC umum di pojokan terminal itu. “Misi bu,” tanya Rini dengan nada yang sopan. “Ada tidak bus tujuan Pemalang?”. “Biasanya, kalau bus itu ada tulisan tujuannya. Coba Eneng cari lagi...” jawab Ibu tersebut. Dengan raut muka yang tidak puas, mereka bertiga mencoba mencari lagi. Karena tidak menemukan apa yang mereka cari, mereka memutuskan untuk duduk-duduk sejenak di tempat tunggu. Sampai sorepun mereka hanya termenung di tempat tunggu.

“Heeh! Kayaknya itu tuh bus-nya!” seru Syukur memecah keheningan diantara mereka bertiga. “Mana? Jangan bohong lu!” tanya Rini yang selalu tidak percaya kepada Syukur. “Tuh, bener kan!?” kata Syukur sambil menunjuk bus berwarna oranye dengan bertuliskan 'Jakarta—Pemalang, via Tol.' di kaca bagian belakangnya. Dengan raut wajah yang capek, Ian menyela, “kalau gitu susul aja deh, lagian ini bukan tempat untuk keberangkatan...”. Tanpa berfikir panjang, mereka langsung menyusul bus yang mereka cari sejak siang. “Mas, tunggu!” teriak Ian. “Kami ingin naik!” ujarnya lagi. Berhentilah bus tersebut. Lalu sang kondektur turun, menghampiri mereka bertiga, dan berkata, “maaf mas, tempatnya sudah penuh. Kami bisa paksakan, kalau mau, kalian semua berdiri...”. “Gimana lu semua? Mau pada berdiri?”, tanya Ian. “Daripada di jalan bukannya nyenyak malah pegel, mending kita nunggu bus lain aja deh...”, kata Syukur dengan sedikit kecewa karena penantiannya sia-sia.

Jam 10 malam. Belum ada tanda-tanda kedatangan bus dari atau ke arah Pemalang. Tiba-tiba klakson berderu kencang memekakkan telinga Ian, Rini, dan Syukur yang khusus menunggu di depan gerbang terminal Kampung Rambutan. “Heeh! Ini dia bus dari Pemalang!” seru Rini kegirangan bukan main. Bagaimana tidak, setelah menunggu dari siang, akhirnya mereka mendapat apa yang mereka cari. “Dan kosong!” lanjut Syukur yang semangatnya seperti euforia kesebelasan sepakbolanya memenangi pertandingan. “Kalau begitu, kita datangi saja, biar gak penasaran.” kata Ian mengajak sepupu-sepupunya. Setelah dikejar, bus itu parkir di pojokan, dekat dengan WC umum tempat Rini bertanya. Sang supir bus keluar, lalu menuju tempat di seberang bus tersebut, yaitu sebuah warteg yang cukup besar dan ramai untuk ukuran terminal. Setelah masuk ke warteg itu, supir dan teman-temannya memesan makanan. Dengan sedikit menggangu, Ian bertanya, “Permisi pak, mau tanya, kalau keberangkatan ke Pemalang itu jam berapa ya?”. “Haduh nak, sekarang sudah larut malam, jadi bus ke Pemalang itu berangkat besok...”. “Oh, ya sudah. Terima kasih bapak!” sapa Ian, dengan sedikit memberi senyum simpul kepada supir tersebut. “Sama-sama...” kata supir tersebut. Setelah keluar dari warteg itu, Rini dan Syukur langsung menghampiri Ian. “Kenapa lu Ian? Berangkatnya kapan?” tanya Rini yang terkesan nafsu. “Besok...”, jawab Ian yang sangat lesu atas jawaban supir tadi. “Wekz!? Gila aja lo! Skripsi tinggal dua bulan lagi juga!” gerutu Rini, marah besar tidak karuan. “Yah ampun, lebai lo! Cuma kelewat semalam ini, lagipula besok pasti cepet kelar...” balas Syukur yang percaya diri tugas skripsinya cepat selesai.

Setelah selesai berdebat seperti itu, tidak terasa penglihatan mereka mulai memudar. Ya, mereka mengantuk dan mengalami capek yang hebat setelah mengitari terminal layaknya mengitari bukit Shofa dan Marwa selama 7 kali tiada henti. “Tidur dimana nih?” tanya Rini yang paling tidak suka kalau tidur di tempat yang menjijikkan. “Mau tidur dimana lagi, ya disinilah!" sahut Syukur dengan keras, sambil menunjuk kursi di halte utama. “Jam segini Mama gua gak bakal bukakan pintu!” lanjutnya. Ya, Rini mau tidak mau harus memakluminya. “Sekarang... cari kursi yang paling nyenyak untuk tidur!” seru Ian, yang tidak seperti biasanya semangat untuk tidur. Biasanya, Ian lebih suka begadang untuk menyelesaikan tugas atau sekedar menonton TV, juga jika ada pertandingan sepakbola.

Jam 3 dini hari. Empat jam setelah mereka mencari “tempat tidur” di terminal, terhitung dari jam 11 malam. Tidak seperti sepupu lelakinya yang langsung tertidur pulas, Rini terbangun di tusukan angin malam yang cukup jahat dan mencekam itu. Segeranya membuka tas, lalu mengambil arlojinya. “Huuh, masih jam tiga...” gumam dirinya. Melihat sekeliling dahulu, lalu ia mengobok-obok isi tasnya. Diambilnya sebuah buku kecil berwarna merah jambu digembok kecil berjudul 'DIARY'. Dengan pulpen bertinta hitam ini, Rini mencatat segala kejadian di buku tersebut. Hobi Rini adalah mencatat pengalaman harian di buku harian. Baginya, mencatat di buku harian itu sangat aspiratif, mengeluarkan semua uneg-unegnya, dan juga menjadi teman di kala suka maupun duka.

Jam 4.30 pagi. “Huamm, masih ngantuk nih...” kata Ian sambil menutup mulutnya yang sedang menguap. Sementara Syukur mendapati dirinya berada di lantai. “Hmm... pasti gua jatuh lagi, kebiasaan nih!” gerutu Syukur. “Ayo, busnya kan berangkat jam 5, sebelum itu, kita makan dulu aja!” ajak Rini. “Sembari menunggu penumpang yang lainnya!”, lanjutnya. “Daripada telat, kita beli nasi bungkus, lalu kita langsung ke bus sekarang...” cetus Syukur, yang sepertinya otaknya lagi jernih. “Mmm, ya udah.” kata Ian yang perutnya juga membutuhkan makanan. Setelah sibuk membeli makanan sekaligus membeli peralatan darurat, mereka menuju ke bus yang mereka tuju. Untungnya di bus itu sudah dihuni oleh supir dan kondektur.

Kesan pertama pada busnya? Ber-AC, tempat duduk dari busa, biarpun sedikit terkelupas oleh para tangan jahil, lalu ada kamar mandi, yang terkadang setelah dipakai terasa bau tidak menyenangkan. Namun biarpun begitu, mereka memberi senyuman yang cukup lebar pada bus ini. Segeranya mereka masuk, mencari tempat duduk yang paling enak, tentunya yang satu bangku tiga orang, serta menyantap hidangan yang mereka beli, yaitu nasi bungkus. Seketika para penumpang berdatangan layaknya orang mencari harta karun terpendam. Berdesak-desakan, membuat para penumpang yang lebih dulu tiba di bus ini merasa tidak nyaman. “Gila! Yang mau ke Pemalang banyak banget!?” protes Rini. “Lha, Pemalang itu kan katanya banyak yang kerja di Jakarta, khusunya jadi PRT...” jawab Syukur. “Ohh, gitu ya Kur” kata Rini sambil berfikir keras. “Eh, daripada bengong, enaknya ngapain ya?” tanya Ian, yang ingin mengusir rasa penatnya di dalam bus, karena sudah menunggu lama sekali sebelum akhirnya bisa naik bus tujuan. “Untung gua udah beli ini...!” seru Syukur sambil merogoh plastik hitamnya yang berisi barang yang dibeli di warung di terminal, yaitu buku TTS. “Tapi, gua lupa bawa pulpen...” keluh Syukur. “Tenang Kur, kali ini gua berbaik hati sama elu, nih!” kata Rini sembari diberikannya pulpen hitamnya. “Thanks. Oleh karena itu, kita jawab bareng-bareng ya?” tanya Syukur. “Ok deh!” seru Ian dan Rini. Setelah ini mesin bus dinyalakan. Dengan suara mesin diesel yang khas, perjalanan mereka bertigapun dimulai. (bersambung)

Twitter-ku