(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur adalah tiga mahasiswa-mahasiswi jurusan geologi yang ingin menyelesaikan skripsinya masing-masing. Dalam rangka mewjudkan hal tersebut, maka mereka memutuskan untuk menyelesaikan skripsi mereka bersama-sama. Mereka memutuskan untuk menyelesaikan skripsinya di gunung Slamet, di daerah Jawa Tengah.)
Sambil mengeluh dan keringetan karena kepanasan, mereka mencari-cari bus jurusan Pemalang atau sekitarnya, namun mereka belum dapat menemukannya. “Aduuh, Ian! Kok gak ketemu...?” gerutu Syukur sambil mengelus-elus perut buncitnya karena kekenyangan. Dengan sesekali mengusap keringat di dahi, Ian menjawab, “kalau begini, kita tanya aja deh!”. Ditemuilahnya penjaga WC umum di pojokan terminal itu. “Misi bu,” tanya Rini dengan nada yang sopan. “Ada tidak bus tujuan Pemalang?”. “Biasanya, kalau bus itu ada tulisan tujuannya. Coba Eneng cari lagi...” jawab Ibu tersebut. Dengan raut muka yang tidak puas, mereka bertiga mencoba mencari lagi. Karena tidak menemukan apa yang mereka cari, mereka memutuskan untuk duduk-duduk sejenak di tempat tunggu. Sampai sorepun mereka hanya termenung di tempat tunggu.
“Heeh! Kayaknya itu tuh bus-nya!” seru Syukur memecah keheningan diantara mereka bertiga. “Mana? Jangan bohong lu!” tanya Rini yang selalu tidak percaya kepada Syukur. “Tuh, bener kan!?” kata Syukur sambil menunjuk bus berwarna oranye dengan bertuliskan 'Jakarta—Pemalang, via Tol.' di kaca bagian belakangnya. Dengan raut wajah yang capek, Ian menyela, “kalau gitu susul aja deh, lagian ini bukan tempat untuk keberangkatan...”. Tanpa berfikir panjang, mereka langsung menyusul bus yang mereka cari sejak siang. “Mas, tunggu!” teriak Ian. “Kami ingin naik!” ujarnya lagi. Berhentilah bus tersebut. Lalu sang kondektur turun, menghampiri mereka bertiga, dan berkata, “maaf mas, tempatnya sudah penuh. Kami bisa paksakan, kalau mau, kalian semua berdiri...”. “Gimana lu semua? Mau pada berdiri?”, tanya Ian. “Daripada di jalan bukannya nyenyak malah pegel, mending kita nunggu bus lain aja deh...”, kata Syukur dengan sedikit kecewa karena penantiannya sia-sia.
Jam 10 malam. Belum ada tanda-tanda kedatangan bus dari atau ke arah Pemalang. Tiba-tiba klakson berderu kencang memekakkan telinga Ian, Rini, dan Syukur yang khusus menunggu di depan gerbang terminal Kampung Rambutan. “Heeh! Ini dia bus dari Pemalang!” seru Rini kegirangan bukan main. Bagaimana tidak, setelah menunggu dari siang, akhirnya mereka mendapat apa yang mereka cari. “Dan kosong!” lanjut Syukur yang semangatnya seperti euforia kesebelasan sepakbolanya memenangi pertandingan. “Kalau begitu, kita datangi saja, biar gak penasaran.” kata Ian mengajak sepupu-sepupunya. Setelah dikejar, bus itu parkir di pojokan, dekat dengan WC umum tempat Rini bertanya. Sang supir bus keluar, lalu menuju tempat di seberang bus tersebut, yaitu sebuah warteg yang cukup besar dan ramai untuk ukuran terminal. Setelah masuk ke warteg itu, supir dan teman-temannya memesan makanan. Dengan sedikit menggangu, Ian bertanya, “Permisi pak, mau tanya, kalau keberangkatan ke Pemalang itu jam berapa ya?”. “Haduh nak, sekarang sudah larut malam, jadi bus ke Pemalang itu berangkat besok...”. “Oh, ya sudah. Terima kasih bapak!” sapa Ian, dengan sedikit memberi senyum simpul kepada supir tersebut. “Sama-sama...” kata supir tersebut. Setelah keluar dari warteg itu, Rini dan Syukur langsung menghampiri Ian. “Kenapa lu Ian? Berangkatnya kapan?” tanya Rini yang terkesan nafsu. “Besok...”, jawab Ian yang sangat lesu atas jawaban supir tadi. “Wekz!? Gila aja lo! Skripsi tinggal dua bulan lagi juga!” gerutu Rini, marah besar tidak karuan. “Yah ampun, lebai lo! Cuma kelewat semalam ini, lagipula besok pasti cepet kelar...” balas Syukur yang percaya diri tugas skripsinya cepat selesai.
Setelah selesai berdebat seperti itu, tidak terasa penglihatan mereka mulai memudar. Ya, mereka mengantuk dan mengalami capek yang hebat setelah mengitari terminal layaknya mengitari bukit Shofa dan Marwa selama 7 kali tiada henti. “Tidur dimana nih?” tanya Rini yang paling tidak suka kalau tidur di tempat yang menjijikkan. “Mau tidur dimana lagi, ya disinilah!" sahut Syukur dengan keras, sambil menunjuk kursi di halte utama. “Jam segini Mama gua gak bakal bukakan pintu!” lanjutnya. Ya, Rini mau tidak mau harus memakluminya. “Sekarang... cari kursi yang paling nyenyak untuk tidur!” seru Ian, yang tidak seperti biasanya semangat untuk tidur. Biasanya, Ian lebih suka begadang untuk menyelesaikan tugas atau sekedar menonton TV, juga jika ada pertandingan sepakbola.
Jam 3 dini hari. Empat jam setelah mereka mencari “tempat tidur” di terminal, terhitung dari jam 11 malam. Tidak seperti sepupu lelakinya yang langsung tertidur pulas, Rini terbangun di tusukan angin malam yang cukup jahat dan mencekam itu. Segeranya membuka tas, lalu mengambil arlojinya. “Huuh, masih jam tiga...” gumam dirinya. Melihat sekeliling dahulu, lalu ia mengobok-obok isi tasnya. Diambilnya sebuah buku kecil berwarna merah jambu digembok kecil berjudul 'DIARY'. Dengan pulpen bertinta hitam ini, Rini mencatat segala kejadian di buku tersebut. Hobi Rini adalah mencatat pengalaman harian di buku harian. Baginya, mencatat di buku harian itu sangat aspiratif, mengeluarkan semua uneg-unegnya, dan juga menjadi teman di kala suka maupun duka.
Jam 4.30 pagi. “Huamm, masih ngantuk nih...” kata Ian sambil menutup mulutnya yang sedang menguap. Sementara Syukur mendapati dirinya berada di lantai. “Hmm... pasti gua jatuh lagi, kebiasaan nih!” gerutu Syukur. “Ayo, busnya kan berangkat jam 5, sebelum itu, kita makan dulu aja!” ajak Rini. “Sembari menunggu penumpang yang lainnya!”, lanjutnya. “Daripada telat, kita beli nasi bungkus, lalu kita langsung ke bus sekarang...” cetus Syukur, yang sepertinya otaknya lagi jernih. “Mmm, ya udah.” kata Ian yang perutnya juga membutuhkan makanan. Setelah sibuk membeli makanan sekaligus membeli peralatan darurat, mereka menuju ke bus yang mereka tuju. Untungnya di bus itu sudah dihuni oleh supir dan kondektur.
Kesan pertama pada busnya? Ber-AC, tempat duduk dari busa, biarpun sedikit terkelupas oleh para tangan jahil, lalu ada kamar mandi, yang terkadang setelah dipakai terasa bau tidak menyenangkan. Namun biarpun begitu, mereka memberi senyuman yang cukup lebar pada bus ini. Segeranya mereka masuk, mencari tempat duduk yang paling enak, tentunya yang satu bangku tiga orang, serta menyantap hidangan yang mereka beli, yaitu nasi bungkus. Seketika para penumpang berdatangan layaknya orang mencari harta karun terpendam. Berdesak-desakan, membuat para penumpang yang lebih dulu tiba di bus ini merasa tidak nyaman. “Gila! Yang mau ke Pemalang banyak banget!?” protes Rini. “Lha, Pemalang itu kan katanya banyak yang kerja di Jakarta, khusunya jadi PRT...” jawab Syukur. “Ohh, gitu ya Kur” kata Rini sambil berfikir keras. “Eh, daripada bengong, enaknya ngapain ya?” tanya Ian, yang ingin mengusir rasa penatnya di dalam bus, karena sudah menunggu lama sekali sebelum akhirnya bisa naik bus tujuan. “Untung gua udah beli ini...!” seru Syukur sambil merogoh plastik hitamnya yang berisi barang yang dibeli di warung di terminal, yaitu buku TTS. “Tapi, gua lupa bawa pulpen...” keluh Syukur. “Tenang Kur, kali ini gua berbaik hati sama elu, nih!” kata Rini sembari diberikannya pulpen hitamnya. “Thanks. Oleh karena itu, kita jawab bareng-bareng ya?” tanya Syukur. “Ok deh!” seru Ian dan Rini. Setelah ini mesin bus dinyalakan. Dengan suara mesin diesel yang khas, perjalanan mereka bertigapun dimulai. (bersambung)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar